Friday, October 10, 2008
TEOLOGI KAUM INJILI
TEOLOGI KAUM INJIL
oleh: Fernando Tambunan,ST
I. PENDAHULUAN
Petrus menjelaskan kepada kita, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.” (1 Petrus 3:15). Ini adalah alasan yang baik mengapa setiap orang harus dapat menjelaskan teologia atau doktrin apa yang dia anut, sama seperti kalau orang menyebut dirinya orang Baptis harus dapat setiap saat memberikan alasan-alasan mengapa ia adalah orang Baptis.
Dasar dan kekhususan dari setiap pemahaman doktrinal haruslah didasarkan pada Alkitab, Alkitab saja yang merupakan satu-satunya dan cukup itu saja sebagai dasar dari semua iman, doktrin dan praktik. Jika kita tidak menemukannya dalam Alkitab berarti itu bukan doktrin yang benar. Kita menyebut diri kita sebagai penganut teologia tertentu karena doktrin kita didasarkan pada doktrin-doktrin yang kita anut. Saya kurang menyetujui pengkotak-kotakan aliran atau denominasi, karena langsung membatasi diri dengan penganut-penganut teologia yang bermacam-macam, walaupun demikian harus diakui doktrin atau teologia yang saya anut selama ini banyak dipengaruhi oleh teologia kaum injili . Berikut ini saya paparkan dengan ringkas doktrin dan teologia yang saya pahami dan anut secara umum.
II. PEMBAHASAN
A. Allah
a. Allah Yang Tidak Dapat Dimengerti Secara Tuntas
Didalam kebenaran kekristenan yang paling sederhana terdapat kedalaman yang dapat mempengaruhi pemikiran orang-orang yang paling pandai di dalam sejarah manusia., sedalam apa pun pengetahuan teologi kita, kita akan selalu berhadapan dengan sifat dan karakter Allah yang tetap akan menjadi sesuatu yang misteri bagi kita. Tidak ada seorangpun yang mempunyai kemampuan untuk mengerti Allah secara tuntas. Kita adalah makhluk yang terbatas, sedangkan Allah adalah keberadaan yang tidak terbatas. Jadi tidak mungkin yang terbatas dapat mengerti yang tidak terbatas. Pemahaman ini bukan berarti bahwa manusia tidak dapat mengetahui apa-apa tentang Allah. Ini hanya menunjukkan bahwa pengetahuan kita terbatas dan terikat pada kemanusiaan kita. Akan selalu ada hal-hal tentang Allah yang berda di luar jangkauan pemikiran kita. Alkitab mengatakan “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini." (Ulangan 29:29)
b. Kemahakuasaan Allah
Kemahakuasaan tidak berarti bahwa Allah dapat melakukan apa saja. Allah tidak dapat bertindak melawan natur-Nya. Kemahakuasaan menunjuk kepada kuasa kedaulatan Allah, otoritas dan kuasaNya atas semua ciptaan-Nya. Kemahakuasaan ini merupakan penghiburan bagi orang Kristen, karena melalui kekuasaan itu Allah menjamin keselamatan kita, karena tidak ada di dalam alam semesta yang dapat menggagalkan atau mengacaukan rencana-rencana Allah. (Kej 17:1; Maz 115:3 ; Rom 11:36 ; Efs. 1:11 ; Ibr 1:3)
c. Kemahatahuan Allah
Kata Mahatahu berarti memiliki semua pengetahuan dan hanya keberadaan yang tidak terbatas yang dapat memiliki pengetahuan yang tidak terbatas. Pengetahuan Allah yang melampaui pemikiran manusia memungkinkan Dia untuk dapat menyelesaikan misteri yang masih tersembunyi bagi kita. Allah sebagai keberadaan yang tidak terbatas mampu untuk menyadari segala sesuatu, mengerti segala sesuatu dan mengetahui segala sesuatu. (Maz. 147:5; Yehz. 11:5; KPR 15:18; Ibr. 4:13; Rom 11:33-36)
d. Keadilan Allah
Keadilan adalah memberikan kepada seseorang apa yang menjadi miliknya/haknya. Keadilan didalam Alkitab berkaitan dengan kebenaran, yaitu melakukan apa yang benar. Ketidakadilan berada di luar kategori keadilan dan merupakan pelanggaran terhadap keadilan. Kemurahan juga merupakan hal yang di luar kategori keadilan, tetapi tidak melanggar keadilan. ( Kej. 18:25; Kel. 34:6-7; Neh. 9:32-33; Maz. 145:17; Rom 9:14-33)
e. Kehendak Allah
b. Kemahakuasaan Allah
Kemahakuasaan tidak berarti bahwa Allah dapat melakukan apa saja. Allah tidak dapat bertindak melawan natur-Nya. Kemahakuasaan menunjuk kepada kuasa kedaulatan Allah, otoritas dan kuasaNya atas semua ciptaan-Nya. Kemahakuasaan ini merupakan penghiburan bagi orang Kristen, karena melalui kekuasaan itu Allah menjamin keselamatan kita, karena tidak ada di dalam alam semesta yang dapat menggagalkan atau mengacaukan rencana-rencana Allah. (Kej 17:1; Maz 115:3 ; Rom 11:36 ; Efs. 1:11 ; Ibr 1:3)
c. Kemahatahuan Allah
Kata Mahatahu berarti memiliki semua pengetahuan dan hanya keberadaan yang tidak terbatas yang dapat memiliki pengetahuan yang tidak terbatas. Pengetahuan Allah yang melampaui pemikiran manusia memungkinkan Dia untuk dapat menyelesaikan misteri yang masih tersembunyi bagi kita. Allah sebagai keberadaan yang tidak terbatas mampu untuk menyadari segala sesuatu, mengerti segala sesuatu dan mengetahui segala sesuatu. (Maz. 147:5; Yehz. 11:5; KPR 15:18; Ibr. 4:13; Rom 11:33-36)
d. Keadilan Allah
Keadilan adalah memberikan kepada seseorang apa yang menjadi miliknya/haknya. Keadilan didalam Alkitab berkaitan dengan kebenaran, yaitu melakukan apa yang benar. Ketidakadilan berada di luar kategori keadilan dan merupakan pelanggaran terhadap keadilan. Kemurahan juga merupakan hal yang di luar kategori keadilan, tetapi tidak melanggar keadilan. ( Kej. 18:25; Kel. 34:6-7; Neh. 9:32-33; Maz. 145:17; Rom 9:14-33)
e. Kehendak Allah
Arti kehendak Allah:
1) Kehenak Allah yang berkaitan dengan ketetapan-Nya yang berdaulat, dimana melaluinya Allah menjadikan segala sesuatu yang telah ditetapkan-Nya. Ini tersembunyi bagi kita sampai semua itu terjadi.
2) Kehendak yang dinyatakan adalah hukum atau perintah-perintah yang dinyatakan Allah, dimana kita memiliki kuasa untuk melanggar tetapi kita tidak mempunyai hak untuk melanggar.
3) Kehendak yang berkaitan dengan sikap Allah, kehendak ini menunjukkan sikap Allah, yaitu apa yang diperkenan-Nya
(Yoh. 19:11; Rom 9:14-18 ; Efs. 1:11 ; Kol. 1:9-14 ; Ibr. 6:13-18 ; 2 Pet 3:9)
B. Alkitab
Sesungguhnya topik tentang Alkitab sangat penting. Ini adalah salah satudoktrin gereja yang sangat penting. Mengapa? Jawabnya jelas: karena sebenarnya seluruh doktrin gereja berasal dan dibangun dari topik ini. Dengan demikian, orang Kristen tidak membangun imannya di atas pandangan-pandangan bapak-bapak gereja atau para theolog, sekalipun pandangan mereka tidak dapat kita abaikan. Akan tetapi orang Kristen membangun ajarannya di atas ajaran Alkitab. Itulah sebabnya sikap orang terhadap Alkitab mempengaruhi seluruh doktrin atau ajarannya. Saya melihat Alkitab sebagai wahyu Allah yang bersifat mutlak, maka saya tunduk terhadap segala pernyataan-pernyataan Alkitab, tanpa kecuali, sekalipun pikiran dan pandangan para ahli theologia berbeda dengan itu. Karena bagi mereka yang melihat Alkitab sebagai buku biasa atau sekedar tradisi manusia belaka, maka pernyataan-pernyataan Alkitab tidak berarti apa-apa.
Alkitab bukan sekedar tradisi manusia abad pertama, meskipun memang ada unsur tradisi di dalamnya. Alkitab juga bukan sekedar tulisan manusia, meskipun memang ada unsur keterlibatan manusia dalam penulisannya. Tetapi, sesungguhnya Alkitab adalah Firman Allah. Karena Alkitab adalah Firman Allah, maka Alkitab tidak bersalah terhadap segala hal yang dinyatakannya. Karena itu, Alkitab memegang kuasa dan otoritas tertinggi dalam kehidupan. Sebenarnya, menurut keyakinan orang Injili, inilah pernyataan Alkitab tentang dirinya, dan ini jugalah yang merupakan pandangan kaum Injili. Kaum Injili setuju dengan tokoh reformasi, Martin Luther yang mengatakan: “Tidak seorangpun diharuskan untuk mempercayai sesuatu lebih daripada apa yang dikatakan Alkitab. Alkitab harus dipercayai melebihi penglihatan, perasaan dan pengertian. Dia juga memiliki keutamaan lebih dari mimpi-mimpi, tanda-tanda serta mukjizat-mukjizat” Alkitab adalah Firman Allah.
C. Manusia
Alkitab menjelaskan bahwa manusia bukan saja mahkota dari seluruh ciptaan Allah, tetapi juga obyek khusus pemeliharaan Allah. Dan wahyu Allah dalam Alkitab bukan saja wahyu yang diberikan kepada manusia, tetapi juga wahyu dimana manusia diperhatikan secara khusus. Wahyu ini bukanlah wahyu yang abstrak, tetapi wahyu Allah dalam hubungannya dengan manusia, catatan tentang hubungan antara Allah dengan umat manusia dan terutama merupakan satu wahyu tentang penyelamatan yang telah dipersiapkan Allah, dan kini Ia juga bermaksud mempersiapkan manusia. Kenyataan ini membuktikan bahwa manusia menempati kedudukan yang amat penting dalam Alkitab dan dalam pandangan Allah.
Dari Kej. 1:26, 27 dan 2:7,21-23 jelas bagi kita bahwa segala sesuatu yang mendahului penciptaan manusia dipersiapkan Allah untuk membuat tempat tinggal yang sesuai bagi manusia sebagai raja atas semua ciptaan. Penjelasan ini menunjukkan kepada kita bagaimana manusia ditempatkan dalam penciptaan Allah, dikelilingi oleh dunia tumbuhan dan hewan, dan bagimana manusia memulai sejarahnya.Ada hal-hal khusus di mana manusia berbeda dengan penciptaan dari semua makhluk hidup yang lain.
D. Keselamatan
1. Keselamatan: Kebutuhan manusia yang utama.
Kabar buruk yang diberitakan Alkitab adalah fakta bahwa semua manusia telah jatuh ke dalam dosa (Kej 3; Roma 3:9-18, 23) dan di dalam kedaulatanNya Allah telah menetapkan bahwa “upah dosa ialah maut” ( Rm 6:23). Itu berarti semua manusia harus menghadapi kematian kekal di api neraka yang telah ditentukan Allah sebagai alat penghukuman bagi manusia berdosa. Inilah berita yang sangat mengerikan. Dengan keputusan ini jelas bagi kita sesugguhnya semua manusia keturunan Adam dan Hawa sedang dalam ancaman bahaya yang serius. Oleh sebab itu semua manusia sesungguhnya membutuhkan keselamatan, yaitu keselamatan dari murka Allah yang akan datang.
2. Keselamatan: Tujuan Allah bagi manusia.
Sejak semula Allah mempunyai tujuan bagi manusia, yaitu untuk memuliakan namNya. Bahkan penciptaan alam semesta juga bertujuan untuk mencerminkan kemuliaan Allah (Mzm 8;2,4) Namun tujuan itu diserong oleh karen jatuhnya manusia ke dalam dosa, itulah sebabnya Allah segera mengambil inisiatif sebagai tindakan penyelamatan. (Kej. 3:15, 23; Rm 8:20-21).
a. Pengangkatan Israel sebagai bangsa pilihan dipakai Allah untuk tujuan penyelematanNya. Ia memanggil Abraham, bapa bangsa Ibrani, dan menyingkapkan apa yang diperlukan supaya manusia dapat dibenarkan oleh Allah (Gal 3:6-7).
b. Yesus Kristus merupakan penjelmaan untuk menyingkapkan tujuan penyelamatan Allah (jalan selamat) bagi kita – jalan kembali kepada Allah), Yoh. 14:6; Rm 3:25-26; Kis. 4:12).
3. Keselamatan: Pekerjaan Juruselamat.
a. Penebusan Yesus Kristus.
Allah Bapa mengambil inisiatif untuk mengutus Yesus Kristus ke dalam dunia ini. Allah melakukan hal itu karena Ia mengasihi umat manusia (Yoh 3:16). Tidak dapat disangkal lagi, semua orang perlu diselamatkan. Kalau tidak, mereka semua akan binasa. Yesus Kristus harus melakukan apa yang hanya dapat dilakukan oleh Dia saja, yaitu penebusan manusia melalui penumpahan darahNya di kayu salib sebagai korban/harga yang harus dibayar untuk meredam murka Allah - lunas dibayar sekali untuk selama-lamanya (Ibr 10:10). Dalam hal inilah keadilan dan kasih Allah berjalan secara bersam-sama.
b. Pengorbanan Kristus harus diresponi dengan iman ( Yoh 3:16; Ef. 2:8)
Akar dari istilah iman adalah “percaya”. Percaya kepada Allah bukan merupakan suatu tindakan yang berdasarkan pada kepercayaan yang tidak beralasan, tapi kepada janji Allah yang berpribadi, yang menyatakan diriNya dan layak untuk dipercayai. Iman bukan merupakan suatu loncatan pada kegelapan, tetapi suatu kepercayaan di dalam Allah yang memindahkan kita dari kegelapan kepada terang (1 Petrus 2:9). Iman menyediakan substansi untuk kepercayaan kita akan masa yang akan datang dengan mempercayai sesuatu yang tidak kelihatan (Ibr 11:1). Iman lebih dari sekedar percaya kepada Allah; tetapi berarti mempercayakan diri kita sepenuhnya kepada Allah (Rom 12:1). Dengan demikian kita dibenarkan karena iman kepada Yesus Kristus (Rom 3:21-28) dan tidak ada tempat bagi perbuatan baik dan jasa manusia dalam upaya pembenaran dirinya di hadapan Allah, melainkan hanya karena anugerah yang sesungguhnya kita tidak layak menerimanya (Ef. 2:8). Dilahirkan secara baru atau yang lazim kita sebut lahir baru (rohani) oleh kuasa Roh Kudus (Yoh 3:5-6) adalah langkah awal tindakan Allah dalam penyelamatan. Seiring dengan tindakan tersebut Allah memeteraikan seorang percaya sebagai anak Allah melalui masuknya Roh Kudus di dalam hidup orang percaya sebagai jaminan kepemilikan Allah (Ef. 1:13-14).
c. Perlunya Pertobatan (conversion dan repentance)
Pertobatan dibutuhkan sebagai suatu kondisi untuk keselamatan. Pertobatan merupakan buah dari kelahiran kembali. Bukan karena takut dihukum atau takut kehilangan upah, melainkan karena didorong oleh kesadaran penyelasan yang sejati akan dosa. Hal ini melibatkan pengakuan secara penuh, kesediaan untuk bertanggung jawab, dan pemulihan untuk berbalik dari dosa. Untuk itu Allah berjanji mengampuni dosa dan memulihkan semua orang yang benar-benar bertobat (1 Yoh 1:9).
4. Keselamatan: sesuatu yang tinggal tetap.
Kebanyakan dari kita mengenal orang yang telah menyatakan pengakuan iman di dalam Kristus, kemudian menyangkali imannya dan menjadi orang yang gagal secara rohani. Bukti semacam ini menimbulkan pertanyaan, apakah seseorang yang telah diselamatkan dapat kehilangan keselamatannya? Banyak orang Kristen menganggap bahwa seseorang dapat kehilangan keselamatannya. Apabila seseorang melakukan dosa yang fatal, maka dosa semacam itu membunuh naugerah pembenaran yang mendiami jiwanya. Apabila ia meninggal sebelum dipulihkan pada tahap anugerah melalui pertobatan/pengampunan maka dia akan pergi ke neraka. Sebagian orang Kristen percaya bahwa Ibrani 6 menggambarkan hal itu. Namun sesungguhnya yang harus kita percayai bahwa apabila kita telah memiliki iman yang menyelamatkan, maka kita tidak akan pernah kehilangan iman itu lagi. Dan, kalau kita sampai kehilangan, maka artinya sejak semula kita memang tidak pernah memilikinya (1 Yoh 2:19; bdk. Luk 8:5-8).
Doktrin ketekunan orang percaya (Perseverance of the saints) tidak terletak dari kemampuan kita untuk memelihara, walaupun kita sudah mengalami kelahiran kembali. Tetapi terletak pada janji Allah untuk memelihara kita. (bdk. Fil 1:6). Berdasarkan anugerah dan hanya berdasarkan anugerah orang Kristen terpelihara. Allah menyelesaikan apa yang telah dimulainya. Dia menjamin bahwa tujuanNya di dalam pemilihan tidak akan gagal. (lihat rantai emas dalam Roma 8:39).
Kita memiliki jaminan oleh karena keselamatan adalah dari Tuhan dan kita adalah buatan tanganNya (Ef 1:13-14). Dasar akhir dari keyakinan kita ditemukan di dalam karya keimaman yang tertinggi dari Kristus, yang telah menjadi Pengantara bagi kita. Sebagaimana Yesus berdoa untuk pemulihan Petrus (Yoh 17:12), demikian pula Ia berdoa untuk pemulihan kita pada waktu kita tersandung dan jatuh. Mereka yang benar orang-orang percaya tidak dapat dirampas dari tangan Allah (Yoh 10:27-30). Dengan demikian keselamatan orang percaya tidak pernah akan hilang lagi. Inilah jaminan kekal bagi kita (bdk. 1 Yoh 5:11-12) bahwa kita diselamatkan Tuhan Yesus, sekali untuk selama-lamanya. Namun, dari pihak kita sebagai orang percaya juga dituntut ketaatan pada Allah dan meninggalkan dosa-dosa (1 Yoh 3:9).
5. Urutan Keselamatan
Regenerasi (Regeneration) – Yoh. 3:1-8 à Iman (Faith) – Ef. 2:8-9 à Pembenaran (Justification) – Rom. 3:23-26; Rom 5:6,8,10 ; II Kor. 5:19,21 à Pengudusan (Sanctification) – II Tes 2:13; I Pet. 2:9; I Tes 5:23; Efs. 5:26; Tit. 2:14; Gal.5:16,25 à Pemuliaan (Glorification) - Rom 8:29-30; II Kor. 3:18 ; Wah. 21:1,2,5
E. Predestinasi
Doktrin predestinasi merupakan doktrin yang sulit, yang menuntut penanganan yang sangat hati-hati dan teliti. Alkitab mengajarkan doktrin predestinasi, arti dasar dari predestinasi berkaitan dengan tujuan akhir manusia, yaitu sorga dan neraka. Tujuan akhir ini ditentukan oleh Allah bukan saja sebelum kita akan sampai kesana, tetapi sebelum kita dilahirkan. Pemilihan Allah adalah berdasarkan kedaulatan-Nya bukan berdasar kepada prapengetahuan Allah. Allah tidak memilih setiap orang. Dia memiliki hak untuk bermurah hati kepada siapa Ia berkenan untuk bermurah hati. Allah tidak memperlakukan seorang pun dengan tidak adil. ( Ams 16:4 ; Yoh. 13:18 ; Rom 8:30 ; Efs. 1:3-14 ; 2 Tes 2:13-15).
F. Penebusan Yang Terbatas
Lima Pokok Calvinisme: T-U-L-I-P
T = Total depravity (kerusakan secara total)
U = Unconditional election (pemilihan yang tidak bersyarat)
L = Limited Atonement (Penebusan yang terbatas)
I = Irresistible grace (Anugerah yang tidak dapat ditolak)
P = Perseverance of the saints (ketekunan orang-orang kudus)
(Matius 1:21 ; Yoh 3:16 ; Yoh 10:27-30 ; Yoh 17:9-12 ; KPR 20:28 ; Rom 8:30)
G. Gereja
Gereja menunjuk pada semua orang yang menjadi milik Tuhan. Kata Perjanjian Baru untuk gereja berarti mereka yang dipanggil keluar, yaitu mereka yang dipanggil oleh Allah keluar dari dunia, pergi dari dosa dan masuk ke dalam wilayah anugerah. Namun gereja diatas bumi selalu merupakan campuran tubuh orang percaya dan orang tidak percaya, maka perlu dibedakan antara gereja yang kelihatan dan gereja yang tidak kelihatan. Gereja yang tidak kelihatan hanya terlihat oleh Allah. Gereja adalah satu, kudus, universal dan apostolik, meskipun terdiri dari berbagai macam denominasi, orang pilihan disatukan oleh satu Tuhan, satu iman dan satu baptisan. Gereja bukan merupakan organisasi, tetapi suatu organisme seperti tubuh manusia terdiri dari anggota-anggota yang hidup.
H. Baptisan
Baptisan merupakan suatu tanda dimana Allah memeteraikan janji-Nya kepada orang pilihan-Nya, yaitu bahwa mereka termasuk di dalam Ikatan Perjanjian anugerah. Baptisan berarti merupakan tanda pembersihan dan pengampunan dari dosa-dosa kita dan baptisan menunjukkan bahwa orang itu sudah dilahirkan baru oleh Roh Kudus, yaitu dikuburkan bersama-sama dengan Kristus, didiami oleh Roh Kudus, diadopsi menjadi keluarga Allah dan dikuduskan oleh Roh Kudus. Baptisan ditetapkan oleh Kristus dan harus dilaksanakan di dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, namun baptisan tidak secara otomatis disertai kelahiran baru. Kuasa dari baptisan bukan terletak pada air, tetapi di dalam kuasa Allah. Baptisan dapat dilaksanakan dengan ditenggelamkan, dipercik, atau dicelup kedalam air. Validitas baptisan terletak pada integritas janji Allah dan seharusnya hanya dilaksanakan satu kali pada diri seseorang. (Rom 4 :11-12 ; Rom 6 :3-4 ; I Kor 12 :12-14 ; Kol 2 :11-15 ; Tit 3 :3-7)
Tentang baptisan anak, Perjanjian Baru secara eksplisit tidak memerintahkan dan tidak melarang baptisan anak. Pada waktu Yohanes Pembaptis dan Yesus bekerja bukan hanya orang dewasa saja yang mengikutinya termasuk anak-anak yang bisa ikut mendengar kotbahnya, tetapi selanjutnya setelah orang-orang bertobat dan percaya, maka ketika mereka mempunyai anak, anak-anak itu menjadi bagian dari anugerah perjanjian Allah, karena itu anak-anak bayi mereka dibaptiskan. Adalah tugas orang tua untuk selanjutnya mengajar mereka mengenai iman dan kebenaran Tuhan sejak kecil,dan bila sejak kecil mereka sudah beriman dan hidup dalam kebenaran maka tidak ada lagi keperluan bahwa mereka mengaku dosa lagi dalam upacara baptisan ulang (Ams.22:6). Tidak pernah ada bayi-bayi dari keluarga yang tidak beriman yang dibaptis, hanya bayi-bayi dari orang tua berimanlah yang dibaptiskan. Dalam kotbahnya di hari Pentakosta, rasul Petrus berkotbah: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita." (KPR.2:38-39). Ayat di atas menyiratkan bahwa anak-anak dari orang percaya terhisap dalam anugerah perjanjian Allah, karena itu mereka dapat dibaptis sejak dilahirkan. Setelah hari Pentakosta setelah banyak orang beriman mempunyai anak-anak, keselamatan itu dijanjikan kepada mereka termasuk seisi rumah mereka (KPR.11:14;16:15,31;18:8).
I. Pemerintahan Sipil
Gereja dan negara merupakan dua lembaga yang berbeda yang ditetapkan oleh Allah dan bertanggungjawab kepada Dia di dalam menjalankan tugas mereka masing-masing. Otoritas sipil ditetapkan oleh Allah dan diberikan kuasa dari pedang. Tidak ada pemerintahan yang otonomi. Tidak ada pemerintahan yang dapat dipisahkan dari Allah. Pada waktu pemerintahan bersifat otonomi, maka tugas gereja untuk mengkritik mereka. Ketaatan pada otoritas pemerintah merupakan tugas yang sakral bagi setiap orang Kristen. Hukum sipil harus ditaati dengan sungguh-sungguh, kecuali hukum itu bertentangan dengan Firman Tuhan. (2 Taw 26:16-20 ; Maz. 2:10-12 ; Rom 13:1-7 ; I Tim 2:1-4 ; I Pet. 2:13-17).
J. Kedatangan Kristus Kedua Kali
Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Kristus akan datang kembali. Tuhan Yesus sendiri secara panjang lebar membicarakan hal tersebut kepada murid-muridNya dalam Matius 24-25. Khususnya ayat berikut, "Sebab itu hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga." (Mat.24: 44). Ketika Tuhan Yesus naik ke Surga, di mana ketika itu murid-murid sedang menatap ke langit, dua orang yang berpakaian putih berkata kepada mereka, "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke Surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama" (Kis.1: 11).
Rasul Paulus pun seringkali menyebutkan hal tersebut dalam surat-suratnya. Bahkan dia sangat merindukan peristiwa tersebut. Ketika masa tuanya, dia menulis, "Sekarang tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan di-karuniakan kapadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada harinya. Tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang menantikan kedatanganNya" (2Tim.4: 8).
Sekalipun kita tidak mengetahui waktu yang tepat kapan Tuhan Yesus datang kembali, namun kita perlu memiliki sikap yang benar dalam menyambut kedatanganNya.
Sifat Kedatangan Kristus
Alkitab dengan jelas menyatakan Kristus pasti datang untuk kedua kalinya. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah sifat kedatanganNya? Untuk itu, Alkitab menyebutkan 5 hal penting tentang kedatangan tersebut.
a. Personal (secara pribadi)
Hal ini sangat jelas dikatakan oleh dua orang malaikat kepada murid-murid Yesus yang sedang menatap ke langit itu. Lukas menulis, "Yesus ini, yang terangkat ke Surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke Surga." (Kis.1: 11)
Tuhan Yesus sendiri, sebelum kembali kepada Allah Bapa bersabda, "Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada kamu pun berada" (Yoh.14: 3b). Rasul Paulus menulis, "Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari Surga. Dan kita yang hidup yang masih tinggal, akan menyongsong Tuhan di angkasa" (1Tes.4: 16-17). Dengan tepat S.H. Travis menulis, “akhir zaman berkenaan dengan pribadi, bukan sekedar peristiwa”.
b. Physical (secara jasmani)
Mari kita lihat kembali kepada perkataan malaikat tersebut di atas: "Yesus akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke Surga". Dengan perkataan lain, orang percaya yang nanti melihat kedatanganNya yang kedua akan melihatNya memiliki tubuh, yaitu tubuh kebangkitan, tubuh kemuliaan. Jadi tidak benar bahwa kedatanganNya yang kedua hanya bersifat rohani.Ada yang erpendapat bahwa sebenarnya arti parousia adalah "hadir". Jadi, Dia hadir secara rohani seperti yang dijanjikanNya. Tuhan Yesus bersabda, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat.28: 20). Hal itu memang ada benarnya, namun arti lain dari parousia adalah "datang", dan pengertian inilah yang paling menonjol dalam Perjanjian Baru. Kata lain yang digunakan dalam arti datang adalah "apokalupsis" dan "epiphania". Ketiga kata tersebut di atas digunakan Tuhan Yesus untuk menyatakan kedatanganNya kembali.
c. Visible (dapat dilihat)
Hal ini kembali jelas terlihat dari perkataan malaikat tersebut di atas. Perhatikan kalimat, "akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke Surga" (Kis.1: 1b). Tuhan Yesus sendiri bersabda: "Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya" (Mat.24: 30).
d. Unexpected (tidak terduga)
Tuhan Yesus dalam khotbahNya tentang akhir zaman bersabda: "Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada pada kedatangan Anak Manusia" (Mat.24: 38-39). Hal itu juga jelas pada perumpamaan tentang hamba yang setia dan yang jahat. Perhatikan kalimat, "Maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disang-kanya" (Mat.24: 50). Demikian juga tentang perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh (Mat.25: 1-13). Di sini kembali muncul kata "tidak disangka-sangka". Digambarkan bahwa mempelai pria datang pada tengah malam di mana gadis-gadis tersebut tertidur. Rasul Paulus juga menyatakan hal tersebut kepada jemaat di Tesalonika. Dia menulis, "Tetapi tentang zaman dan masa Saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam hari. Apabila mereka mengatakan, 'Semuanya damai dan aman,' maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin, lalu mereka pasti tidak akan luput" (1Tes.5: 1-3).
e. Triumphant and Glorious (Penuh kemenangan dan kemuliaan)
Sebagaimana telah dikutip di atas, Tuhan Yesus dalam khotbahNya bersabda: "Dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya" (Mat.24: 30). Rasul Paulus juga menuliskan bahwa ketika Kristus datang, Dia akan disertai oleh malaikat-malaikat dan penghulu malaikat (baca 1Tes.4: 16). Paulus menegaskan bahwa kelak dalam nama Yesus akan bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada dibawah bumi" (Fil.2: 10). Dia yang dihakimi selama hidupNya di dunia ini akan menjadi Hakim, yang akan menghakimi seluruh umat manusia.
Karena itu berbahagialah kita yang tetap setia mengikut Tuhan Yesus serta memberitakanNya sekalipun banyak yang menyalah mengerti serta menolakNya. Karena sesungguhnya, Dia adalah Juruselamat dan Tuhan yang akan menghakimi dunia dengan segala kemenangan dan kemuliaanNya.
III. PENUTUP
Demikianlah secara umum teologia / doktrin yang saya anut.
Referensi:
1. Theologi: Doktrin Allah, Thomy J. Matakupan, IRECS, Momentum 2005
2. Bibliologi: Doktrin Alkitab, Trivena Ambarsari, IRECS, Momentum 2002
3. Prinsip-Prinsip Penginjilan, Thomy J. Matakupan, IRECS, Momentum 2002
4. Teologi Dasar 1, Charles C. Ryrie, Yayasan Andi, 2003
5. Sekitar Tritunggal, Ir. Herlianto, MTh., Milis Yabina 2004
6. Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen, R.C. Sproul, SAAT Malang 2007
7. Antrophology: Doktrin Manusia, Pdt. Budi Asali M.Div., Milis GKRI Exodus
8. Calvinisme Yang Difitnah, Pdt. Budi Asali M.Div., Milis GKRI Exodus
9. Theology: Doktrin Allah, Pdt. Budi Asali M.Div., Milis GKRI Exodus
10. Ajaran Alkitab Mengenai Doktrin Predestinasi, Andhika Gunawan, Milis GKRI Exodus
11. Step by Step, James C.Petty, Momentum,Surabaya , 2004
12. Pertanggungjawaban Iman Kristen Bernegara & Berpolitik,Yakub B. Susabda, Makalah.
13. Tanggungjawab Orang Kristen Terhadap Gereja, Negara dan Sesama, Pdt. William Liam MTh., Bahan Katekisasi GKA –Surabaya
14. Aku Datang Segera, Jakob P.D. Groen, Momentum- Litindo, 2002
15. Kristus Pasti Datang Kembali, Pdt. Ir. Mangapul Sagala MTh., Perkantas
1) Kehenak Allah yang berkaitan dengan ketetapan-Nya yang berdaulat, dimana melaluinya Allah menjadikan segala sesuatu yang telah ditetapkan-Nya. Ini tersembunyi bagi kita sampai semua itu terjadi.
2) Kehendak yang dinyatakan adalah hukum atau perintah-perintah yang dinyatakan Allah, dimana kita memiliki kuasa untuk melanggar tetapi kita tidak mempunyai hak untuk melanggar.
3) Kehendak yang berkaitan dengan sikap Allah, kehendak ini menunjukkan sikap Allah, yaitu apa yang diperkenan-Nya
(Yoh. 19:11; Rom 9:14-18 ; Efs. 1:11 ; Kol. 1:9-14 ; Ibr. 6:13-18 ; 2 Pet 3:9)
B. Alkitab
Sesungguhnya topik tentang Alkitab sangat penting. Ini adalah salah satudoktrin gereja yang sangat penting. Mengapa? Jawabnya jelas: karena sebenarnya seluruh doktrin gereja berasal dan dibangun dari topik ini. Dengan demikian, orang Kristen tidak membangun imannya di atas pandangan-pandangan bapak-bapak gereja atau para theolog, sekalipun pandangan mereka tidak dapat kita abaikan. Akan tetapi orang Kristen membangun ajarannya di atas ajaran Alkitab. Itulah sebabnya sikap orang terhadap Alkitab mempengaruhi seluruh doktrin atau ajarannya. Saya melihat Alkitab sebagai wahyu Allah yang bersifat mutlak, maka saya tunduk terhadap segala pernyataan-pernyataan Alkitab, tanpa kecuali, sekalipun pikiran dan pandangan para ahli theologia berbeda dengan itu. Karena bagi mereka yang melihat Alkitab sebagai buku biasa atau sekedar tradisi manusia belaka, maka pernyataan-pernyataan Alkitab tidak berarti apa-apa.
Alkitab bukan sekedar tradisi manusia abad pertama, meskipun memang ada unsur tradisi di dalamnya. Alkitab juga bukan sekedar tulisan manusia, meskipun memang ada unsur keterlibatan manusia dalam penulisannya. Tetapi, sesungguhnya Alkitab adalah Firman Allah. Karena Alkitab adalah Firman Allah, maka Alkitab tidak bersalah terhadap segala hal yang dinyatakannya. Karena itu, Alkitab memegang kuasa dan otoritas tertinggi dalam kehidupan. Sebenarnya, menurut keyakinan orang Injili, inilah pernyataan Alkitab tentang dirinya, dan ini jugalah yang merupakan pandangan kaum Injili. Kaum Injili setuju dengan tokoh reformasi, Martin Luther yang mengatakan: “Tidak seorangpun diharuskan untuk mempercayai sesuatu lebih daripada apa yang dikatakan Alkitab. Alkitab harus dipercayai melebihi penglihatan, perasaan dan pengertian. Dia juga memiliki keutamaan lebih dari mimpi-mimpi, tanda-tanda serta mukjizat-mukjizat” Alkitab adalah Firman Allah.
C. Manusia
Alkitab menjelaskan bahwa manusia bukan saja mahkota dari seluruh ciptaan Allah, tetapi juga obyek khusus pemeliharaan Allah. Dan wahyu Allah dalam Alkitab bukan saja wahyu yang diberikan kepada manusia, tetapi juga wahyu dimana manusia diperhatikan secara khusus. Wahyu ini bukanlah wahyu yang abstrak, tetapi wahyu Allah dalam hubungannya dengan manusia, catatan tentang hubungan antara Allah dengan umat manusia dan terutama merupakan satu wahyu tentang penyelamatan yang telah dipersiapkan Allah, dan kini Ia juga bermaksud mempersiapkan manusia. Kenyataan ini membuktikan bahwa manusia menempati kedudukan yang amat penting dalam Alkitab dan dalam pandangan Allah.
Dari Kej. 1:26, 27 dan 2:7,21-23 jelas bagi kita bahwa segala sesuatu yang mendahului penciptaan manusia dipersiapkan Allah untuk membuat tempat tinggal yang sesuai bagi manusia sebagai raja atas semua ciptaan. Penjelasan ini menunjukkan kepada kita bagaimana manusia ditempatkan dalam penciptaan Allah, dikelilingi oleh dunia tumbuhan dan hewan, dan bagimana manusia memulai sejarahnya.
D. Keselamatan
1. Keselamatan: Kebutuhan manusia yang utama.
Kabar buruk yang diberitakan Alkitab adalah fakta bahwa semua manusia telah jatuh ke dalam dosa (Kej 3; Roma 3:9-18, 23) dan di dalam kedaulatanNya Allah telah menetapkan bahwa “upah dosa ialah maut” ( Rm 6:23). Itu berarti semua manusia harus menghadapi kematian kekal di api neraka yang telah ditentukan Allah sebagai alat penghukuman bagi manusia berdosa. Inilah berita yang sangat mengerikan. Dengan keputusan ini jelas bagi kita sesugguhnya semua manusia keturunan Adam dan Hawa sedang dalam ancaman bahaya yang serius. Oleh sebab itu semua manusia sesungguhnya membutuhkan keselamatan, yaitu keselamatan dari murka Allah yang akan datang.
2. Keselamatan: Tujuan Allah bagi manusia.
Sejak semula Allah mempunyai tujuan bagi manusia, yaitu untuk memuliakan namNya. Bahkan penciptaan alam semesta juga bertujuan untuk mencerminkan kemuliaan Allah (Mzm 8;2,4) Namun tujuan itu diserong oleh karen jatuhnya manusia ke dalam dosa, itulah sebabnya Allah segera mengambil inisiatif sebagai tindakan penyelamatan. (Kej. 3:15, 23; Rm 8:20-21).
a. Pengangkatan Israel sebagai bangsa pilihan dipakai Allah untuk tujuan penyelematanNya. Ia memanggil Abraham, bapa bangsa Ibrani, dan menyingkapkan apa yang diperlukan supaya manusia dapat dibenarkan oleh Allah (Gal 3:6-7).
b. Yesus Kristus merupakan penjelmaan untuk menyingkapkan tujuan penyelamatan Allah (jalan selamat) bagi kita – jalan kembali kepada Allah), Yoh. 14:6; Rm 3:25-26; Kis. 4:12).
3. Keselamatan: Pekerjaan Juruselamat.
a. Penebusan Yesus Kristus.
Allah Bapa mengambil inisiatif untuk mengutus Yesus Kristus ke dalam dunia ini. Allah melakukan hal itu karena Ia mengasihi umat manusia (Yoh 3:16). Tidak dapat disangkal lagi, semua orang perlu diselamatkan. Kalau tidak, mereka semua akan binasa. Yesus Kristus harus melakukan apa yang hanya dapat dilakukan oleh Dia saja, yaitu penebusan manusia melalui penumpahan darahNya di kayu salib sebagai korban/harga yang harus dibayar untuk meredam murka Allah - lunas dibayar sekali untuk selama-lamanya (Ibr 10:10). Dalam hal inilah keadilan dan kasih Allah berjalan secara bersam-sama.
b. Pengorbanan Kristus harus diresponi dengan iman ( Yoh 3:16; Ef. 2:8)
Akar dari istilah iman adalah “percaya”. Percaya kepada Allah bukan merupakan suatu tindakan yang berdasarkan pada kepercayaan yang tidak beralasan, tapi kepada janji Allah yang berpribadi, yang menyatakan diriNya dan layak untuk dipercayai. Iman bukan merupakan suatu loncatan pada kegelapan, tetapi suatu kepercayaan di dalam Allah yang memindahkan kita dari kegelapan kepada terang (1 Petrus 2:9). Iman menyediakan substansi untuk kepercayaan kita akan masa yang akan datang dengan mempercayai sesuatu yang tidak kelihatan (Ibr 11:1). Iman lebih dari sekedar percaya kepada Allah; tetapi berarti mempercayakan diri kita sepenuhnya kepada Allah (Rom 12:1). Dengan demikian kita dibenarkan karena iman kepada Yesus Kristus (Rom 3:21-28) dan tidak ada tempat bagi perbuatan baik dan jasa manusia dalam upaya pembenaran dirinya di hadapan Allah, melainkan hanya karena anugerah yang sesungguhnya kita tidak layak menerimanya (Ef. 2:8). Dilahirkan secara baru atau yang lazim kita sebut lahir baru (rohani) oleh kuasa Roh Kudus (Yoh 3:5-6) adalah langkah awal tindakan Allah dalam penyelamatan. Seiring dengan tindakan tersebut Allah memeteraikan seorang percaya sebagai anak Allah melalui masuknya Roh Kudus di dalam hidup orang percaya sebagai jaminan kepemilikan Allah (Ef. 1:13-14).
c. Perlunya Pertobatan (conversion dan repentance)
Pertobatan dibutuhkan sebagai suatu kondisi untuk keselamatan. Pertobatan merupakan buah dari kelahiran kembali. Bukan karena takut dihukum atau takut kehilangan upah, melainkan karena didorong oleh kesadaran penyelasan yang sejati akan dosa. Hal ini melibatkan pengakuan secara penuh, kesediaan untuk bertanggung jawab, dan pemulihan untuk berbalik dari dosa. Untuk itu Allah berjanji mengampuni dosa dan memulihkan semua orang yang benar-benar bertobat (1 Yoh 1:9).
4. Keselamatan: sesuatu yang tinggal tetap.
Kebanyakan dari kita mengenal orang yang telah menyatakan pengakuan iman di dalam Kristus, kemudian menyangkali imannya dan menjadi orang yang gagal secara rohani. Bukti semacam ini menimbulkan pertanyaan, apakah seseorang yang telah diselamatkan dapat kehilangan keselamatannya? Banyak orang Kristen menganggap bahwa seseorang dapat kehilangan keselamatannya. Apabila seseorang melakukan dosa yang fatal, maka dosa semacam itu membunuh naugerah pembenaran yang mendiami jiwanya. Apabila ia meninggal sebelum dipulihkan pada tahap anugerah melalui pertobatan/pengampunan maka dia akan pergi ke neraka. Sebagian orang Kristen percaya bahwa Ibrani 6 menggambarkan hal itu. Namun sesungguhnya yang harus kita percayai bahwa apabila kita telah memiliki iman yang menyelamatkan, maka kita tidak akan pernah kehilangan iman itu lagi. Dan, kalau kita sampai kehilangan, maka artinya sejak semula kita memang tidak pernah memilikinya (1 Yoh 2:19; bdk. Luk 8:5-8).
Doktrin ketekunan orang percaya (Perseverance of the saints) tidak terletak dari kemampuan kita untuk memelihara, walaupun kita sudah mengalami kelahiran kembali. Tetapi terletak pada janji Allah untuk memelihara kita. (bdk. Fil 1:6). Berdasarkan anugerah dan hanya berdasarkan anugerah orang Kristen terpelihara. Allah menyelesaikan apa yang telah dimulainya. Dia menjamin bahwa tujuanNya di dalam pemilihan tidak akan gagal. (lihat rantai emas dalam Roma 8:39).
Kita memiliki jaminan oleh karena keselamatan adalah dari Tuhan dan kita adalah buatan tanganNya (Ef 1:13-14). Dasar akhir dari keyakinan kita ditemukan di dalam karya keimaman yang tertinggi dari Kristus, yang telah menjadi Pengantara bagi kita. Sebagaimana Yesus berdoa untuk pemulihan Petrus (Yoh 17:12), demikian pula Ia berdoa untuk pemulihan kita pada waktu kita tersandung dan jatuh. Mereka yang benar orang-orang percaya tidak dapat dirampas dari tangan Allah (Yoh 10:27-30). Dengan demikian keselamatan orang percaya tidak pernah akan hilang lagi. Inilah jaminan kekal bagi kita (bdk. 1 Yoh 5:11-12) bahwa kita diselamatkan Tuhan Yesus, sekali untuk selama-lamanya. Namun, dari pihak kita sebagai orang percaya juga dituntut ketaatan pada Allah dan meninggalkan dosa-dosa (1 Yoh 3:9).
5. Urutan Keselamatan
Regenerasi (Regeneration) – Yoh. 3:1-8 à Iman (Faith) – Ef. 2:8-9 à Pembenaran (Justification) – Rom. 3:23-26; Rom 5:6,8,10 ; II Kor. 5:19,21 à Pengudusan (Sanctification) – II Tes 2:13; I Pet. 2:9; I Tes 5:23; Efs. 5:26; Tit. 2:14; Gal.5:16,25 à Pemuliaan (Glorification) - Rom 8:29-30; II Kor. 3:18 ; Wah. 21:1,2,5
E. Predestinasi
Doktrin predestinasi merupakan doktrin yang sulit, yang menuntut penanganan yang sangat hati-hati dan teliti. Alkitab mengajarkan doktrin predestinasi, arti dasar dari predestinasi berkaitan dengan tujuan akhir manusia, yaitu sorga dan neraka. Tujuan akhir ini ditentukan oleh Allah bukan saja sebelum kita akan sampai kesana, tetapi sebelum kita dilahirkan. Pemilihan Allah adalah berdasarkan kedaulatan-Nya bukan berdasar kepada prapengetahuan Allah. Allah tidak memilih setiap orang. Dia memiliki hak untuk bermurah hati kepada siapa Ia berkenan untuk bermurah hati. Allah tidak memperlakukan seorang pun dengan tidak adil. ( Ams 16:4 ; Yoh. 13:18 ; Rom 8:30 ; Efs. 1:3-14 ; 2 Tes 2:13-15).
F. Penebusan Yang Terbatas
Lima Pokok Calvinisme: T-U-L-I-P
T = Total depravity (kerusakan secara total)
U = Unconditional election (pemilihan yang tidak bersyarat)
L = Limited Atonement (Penebusan yang terbatas)
I = Irresistible grace (Anugerah yang tidak dapat ditolak)
P = Perseverance of the saints (ketekunan orang-orang kudus)
(Matius 1:21 ; Yoh 3:16 ; Yoh 10:27-30 ; Yoh 17:9-12 ; KPR 20:28 ; Rom 8:30)
G. Gereja
Gereja menunjuk pada semua orang yang menjadi milik Tuhan. Kata Perjanjian Baru untuk gereja berarti mereka yang dipanggil keluar, yaitu mereka yang dipanggil oleh Allah keluar dari dunia, pergi dari dosa dan masuk ke dalam wilayah anugerah. Namun gereja diatas bumi selalu merupakan campuran tubuh orang percaya dan orang tidak percaya, maka perlu dibedakan antara gereja yang kelihatan dan gereja yang tidak kelihatan. Gereja yang tidak kelihatan hanya terlihat oleh Allah. Gereja adalah satu, kudus, universal dan apostolik, meskipun terdiri dari berbagai macam denominasi, orang pilihan disatukan oleh satu Tuhan, satu iman dan satu baptisan. Gereja bukan merupakan organisasi, tetapi suatu organisme seperti tubuh manusia terdiri dari anggota-anggota yang hidup.
H. Baptisan
Baptisan merupakan suatu tanda dimana Allah memeteraikan janji-Nya kepada orang pilihan-Nya, yaitu bahwa mereka termasuk di dalam Ikatan Perjanjian anugerah. Baptisan berarti merupakan tanda pembersihan dan pengampunan dari dosa-dosa kita dan baptisan menunjukkan bahwa orang itu sudah dilahirkan baru oleh Roh Kudus, yaitu dikuburkan bersama-sama dengan Kristus, didiami oleh Roh Kudus, diadopsi menjadi keluarga Allah dan dikuduskan oleh Roh Kudus. Baptisan ditetapkan oleh Kristus dan harus dilaksanakan di dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, namun baptisan tidak secara otomatis disertai kelahiran baru. Kuasa dari baptisan bukan terletak pada air, tetapi di dalam kuasa Allah. Baptisan dapat dilaksanakan dengan ditenggelamkan, dipercik, atau dicelup kedalam air. Validitas baptisan terletak pada integritas janji Allah dan seharusnya hanya dilaksanakan satu kali pada diri seseorang. (Rom 4 :11-12 ; Rom 6 :3-4 ; I Kor 12 :12-14 ; Kol 2 :11-15 ; Tit 3 :3-7)
Tentang baptisan anak, Perjanjian Baru secara eksplisit tidak memerintahkan dan tidak melarang baptisan anak. Pada waktu Yohanes Pembaptis dan Yesus bekerja bukan hanya orang dewasa saja yang mengikutinya termasuk anak-anak yang bisa ikut mendengar kotbahnya, tetapi selanjutnya setelah orang-orang bertobat dan percaya, maka ketika mereka mempunyai anak, anak-anak itu menjadi bagian dari anugerah perjanjian Allah, karena itu anak-anak bayi mereka dibaptiskan. Adalah tugas orang tua untuk selanjutnya mengajar mereka mengenai iman dan kebenaran Tuhan sejak kecil,dan bila sejak kecil mereka sudah beriman dan hidup dalam kebenaran maka tidak ada lagi keperluan bahwa mereka mengaku dosa lagi dalam upacara baptisan ulang (Ams.22:6). Tidak pernah ada bayi-bayi dari keluarga yang tidak beriman yang dibaptis, hanya bayi-bayi dari orang tua berimanlah yang dibaptiskan. Dalam kotbahnya di hari Pentakosta, rasul Petrus berkotbah: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita." (KPR.2:38-39). Ayat di atas menyiratkan bahwa anak-anak dari orang percaya terhisap dalam anugerah perjanjian Allah, karena itu mereka dapat dibaptis sejak dilahirkan. Setelah hari Pentakosta setelah banyak orang beriman mempunyai anak-anak, keselamatan itu dijanjikan kepada mereka termasuk seisi rumah mereka (KPR.11:14;16:15,31;18:8).
I. Pemerintahan Sipil
Gereja dan negara merupakan dua lembaga yang berbeda yang ditetapkan oleh Allah dan bertanggungjawab kepada Dia di dalam menjalankan tugas mereka masing-masing. Otoritas sipil ditetapkan oleh Allah dan diberikan kuasa dari pedang. Tidak ada pemerintahan yang otonomi. Tidak ada pemerintahan yang dapat dipisahkan dari Allah. Pada waktu pemerintahan bersifat otonomi, maka tugas gereja untuk mengkritik mereka. Ketaatan pada otoritas pemerintah merupakan tugas yang sakral bagi setiap orang Kristen. Hukum sipil harus ditaati dengan sungguh-sungguh, kecuali hukum itu bertentangan dengan Firman Tuhan. (2 Taw 26:16-20 ; Maz. 2:10-12 ; Rom 13:1-7 ; I Tim 2:1-4 ; I Pet. 2:13-17).
J. Kedatangan Kristus Kedua Kali
Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Kristus akan datang kembali. Tuhan Yesus sendiri secara panjang lebar membicarakan hal tersebut kepada murid-muridNya dalam Matius 24-25. Khususnya ayat berikut, "Sebab itu hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga." (Mat.24: 44). Ketika Tuhan Yesus naik ke Surga, di mana ketika itu murid-murid sedang menatap ke langit, dua orang yang berpakaian putih berkata kepada mereka, "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke Surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama" (Kis.1: 11).
Rasul Paulus pun seringkali menyebutkan hal tersebut dalam surat-suratnya. Bahkan dia sangat merindukan peristiwa tersebut. Ketika masa tuanya, dia menulis, "Sekarang tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan di-karuniakan kapadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada harinya. Tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang menantikan kedatanganNya" (2Tim.4: 8).
Sekalipun kita tidak mengetahui waktu yang tepat kapan Tuhan Yesus datang kembali, namun kita perlu memiliki sikap yang benar dalam menyambut kedatanganNya.
Sifat Kedatangan Kristus
Alkitab dengan jelas menyatakan Kristus pasti datang untuk kedua kalinya. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah sifat kedatanganNya? Untuk itu, Alkitab menyebutkan 5 hal penting tentang kedatangan tersebut.
a. Personal (secara pribadi)
Hal ini sangat jelas dikatakan oleh dua orang malaikat kepada murid-murid Yesus yang sedang menatap ke langit itu. Lukas menulis, "Yesus ini, yang terangkat ke Surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke Surga." (Kis.1: 11)
Tuhan Yesus sendiri, sebelum kembali kepada Allah Bapa bersabda, "Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada kamu pun berada" (Yoh.14: 3b). Rasul Paulus menulis, "Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari Surga. Dan kita yang hidup yang masih tinggal, akan menyongsong Tuhan di angkasa" (1Tes.4: 16-17). Dengan tepat S.H. Travis menulis, “akhir zaman berkenaan dengan pribadi, bukan sekedar peristiwa”.
b. Physical (secara jasmani)
Mari kita lihat kembali kepada perkataan malaikat tersebut di atas: "Yesus akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke Surga". Dengan perkataan lain, orang percaya yang nanti melihat kedatanganNya yang kedua akan melihatNya memiliki tubuh, yaitu tubuh kebangkitan, tubuh kemuliaan. Jadi tidak benar bahwa kedatanganNya yang kedua hanya bersifat rohani.
c. Visible (dapat dilihat)
Hal ini kembali jelas terlihat dari perkataan malaikat tersebut di atas. Perhatikan kalimat, "akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke Surga" (Kis.1: 1b). Tuhan Yesus sendiri bersabda: "Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya" (Mat.24: 30).
d. Unexpected (tidak terduga)
Tuhan Yesus dalam khotbahNya tentang akhir zaman bersabda: "Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada pada kedatangan Anak Manusia" (Mat.24: 38-39). Hal itu juga jelas pada perumpamaan tentang hamba yang setia dan yang jahat. Perhatikan kalimat, "Maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disang-kanya" (Mat.24: 50). Demikian juga tentang perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh (Mat.25: 1-13). Di sini kembali muncul kata "tidak disangka-sangka". Digambarkan bahwa mempelai pria datang pada tengah malam di mana gadis-gadis tersebut tertidur. Rasul Paulus juga menyatakan hal tersebut kepada jemaat di Tesalonika. Dia menulis, "Tetapi tentang zaman dan masa Saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam hari. Apabila mereka mengatakan, 'Semuanya damai dan aman,' maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin, lalu mereka pasti tidak akan luput" (1Tes.5: 1-3).
e. Triumphant and Glorious (Penuh kemenangan dan kemuliaan)
Sebagaimana telah dikutip di atas, Tuhan Yesus dalam khotbahNya bersabda: "Dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya" (Mat.24: 30). Rasul Paulus juga menuliskan bahwa ketika Kristus datang, Dia akan disertai oleh malaikat-malaikat dan penghulu malaikat (baca 1Tes.4: 16). Paulus menegaskan bahwa kelak dalam nama Yesus akan bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada dibawah bumi" (Fil.2: 10). Dia yang dihakimi selama hidupNya di dunia ini akan menjadi Hakim, yang akan menghakimi seluruh umat manusia.
Karena itu berbahagialah kita yang tetap setia mengikut Tuhan Yesus serta memberitakanNya sekalipun banyak yang menyalah mengerti serta menolakNya. Karena sesungguhnya, Dia adalah Juruselamat dan Tuhan yang akan menghakimi dunia dengan segala kemenangan dan kemuliaanNya.
III. PENUTUP
Demikianlah secara umum teologia / doktrin yang saya anut.
Referensi:
1. Theologi: Doktrin Allah, Thomy J. Matakupan, IRECS, Momentum 2005
2. Bibliologi: Doktrin Alkitab, Trivena Ambarsari, IRECS, Momentum 2002
3. Prinsip-Prinsip Penginjilan, Thomy J. Matakupan, IRECS, Momentum 2002
4. Teologi Dasar 1, Charles C. Ryrie, Yayasan Andi, 2003
5. Sekitar Tritunggal, Ir. Herlianto, MTh., Milis Yabina 2004
6. Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen, R.C. Sproul, SAAT Malang 2007
7. Antrophology: Doktrin Manusia, Pdt. Budi Asali M.Div., Milis GKRI Exodus
8. Calvinisme Yang Difitnah, Pdt. Budi Asali M.Div., Milis GKRI Exodus
9. Theology: Doktrin Allah, Pdt. Budi Asali M.Div., Milis GKRI Exodus
10. Ajaran Alkitab Mengenai Doktrin Predestinasi, Andhika Gunawan, Milis GKRI Exodus
11. Step by Step, James C.Petty, Momentum,
12. Pertanggungjawaban Iman Kristen Bernegara & Berpolitik,Yakub B. Susabda, Makalah.
13. Tanggungjawab Orang Kristen Terhadap Gereja, Negara dan Sesama, Pdt. William Liam MTh., Bahan Katekisasi GKA –
14. Aku Datang Segera, Jakob P.D. Groen, Momentum- Litindo, 2002
15. Kristus Pasti Datang Kembali, Pdt. Ir. Mangapul Sagala MTh., Perkantas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar