Kamis, 25 Agustus 2011

Ajaran kaum Injili


Friday, October 10, 2008

TEOLOGI KAUM INJILI

TEOLOGI KAUM INJIL
oleh: Fernando Tambunan,ST



I. PENDAHULUAN

Petrus menjelaskan kepada kita, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.” (1 Petrus 3:15). Ini adalah alasan yang baik mengapa setiap orang harus dapat menjelaskan teologia atau doktrin apa yang dia anut, sama seperti kalau orang menyebut dirinya orang Baptis harus dapat setiap saat memberikan alasan-alasan mengapa ia adalah orang Baptis.

Dasar dan kekhususan dari setiap pemahaman doktrinal haruslah didasarkan pada Alkitab, Alkitab saja yang merupakan satu-satunya dan cukup itu saja sebagai dasar dari semua iman, doktrin dan praktik. Jika kita tidak menemukannya dalam Alkitab berarti itu bukan doktrin yang benar. Kita menyebut diri kita sebagai penganut teologia tertentu karena doktrin kita didasarkan pada doktrin-doktrin yang kita anut. Saya kurang menyetujui pengkotak-kotakan aliran atau denominasi, karena langsung membatasi diri dengan penganut-penganut teologia yang bermacam-macam, walaupun demikian harus diakui doktrin atau teologia yang saya anut selama ini banyak dipengaruhi oleh teologia kaum injili . Berikut ini saya paparkan dengan ringkas doktrin dan teologia yang saya pahami dan anut secara umum.

II. PEMBAHASAN
A. Allah
a. Allah Yang Tidak Dapat Dimengerti Secara Tuntas
Didalam kebenaran kekristenan yang paling sederhana terdapat kedalaman yang dapat mempengaruhi pemikiran orang-orang yang paling pandai di dalam sejarah manusia., sedalam apa pun pengetahuan teologi kita, kita akan selalu berhadapan dengan sifat dan karakter Allah yang tetap akan menjadi sesuatu yang misteri bagi kita. Tidak ada seorangpun yang mempunyai kemampuan untuk mengerti Allah secara tuntas. Kita adalah makhluk yang terbatas, sedangkan Allah adalah keberadaan yang tidak terbatas. Jadi tidak mungkin yang terbatas dapat mengerti yang tidak terbatas. Pemahaman ini bukan berarti bahwa manusia tidak dapat mengetahui apa-apa tentang Allah. Ini hanya menunjukkan bahwa pengetahuan kita terbatas dan terikat pada kemanusiaan kita. Akan selalu ada hal-hal tentang Allah yang berda di luar jangkauan pemikiran kita. Alkitab mengatakan “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini." (Ulangan 29:29)
b. Kemahakuasaan Allah
Kemahakuasaan tidak berarti bahwa Allah dapat melakukan apa saja. Allah tidak dapat bertindak melawan natur-Nya. Kemahakuasaan menunjuk kepada kuasa kedaulatan Allah, otoritas dan kuasaNya atas semua ciptaan-Nya. Kemahakuasaan ini merupakan penghiburan bagi orang Kristen, karena melalui kekuasaan itu Allah menjamin keselamatan kita, karena tidak ada di dalam alam semesta yang dapat menggagalkan atau mengacaukan rencana-rencana Allah. (Kej 17:1; Maz 115:3 ; Rom 11:36 ; Efs. 1:11 ; Ibr 1:3)
c. Kemahatahuan Allah
Kata Mahatahu berarti memiliki semua pengetahuan dan hanya keberadaan yang tidak terbatas yang dapat memiliki pengetahuan yang tidak terbatas. Pengetahuan Allah yang melampaui pemikiran manusia memungkinkan Dia untuk dapat menyelesaikan misteri yang masih tersembunyi bagi kita. Allah sebagai keberadaan yang tidak terbatas mampu untuk menyadari segala sesuatu, mengerti segala sesuatu dan mengetahui segala sesuatu. (Maz. 147:5; Yehz. 11:5; KPR 15:18; Ibr. 4:13; Rom 11:33-36)
d. Keadilan Allah
Keadilan adalah memberikan kepada seseorang apa yang menjadi miliknya/haknya. Keadilan didalam Alkitab berkaitan dengan kebenaran, yaitu melakukan apa yang benar. Ketidakadilan berada di luar kategori keadilan dan merupakan pelanggaran terhadap keadilan. Kemurahan juga merupakan hal yang di luar kategori keadilan, tetapi tidak melanggar keadilan. ( Kej. 18:25; Kel. 34:6-7; Neh. 9:32-33; Maz. 145:17; Rom 9:14-33)
e. Kehendak Allah
Arti kehendak Allah:
1) Kehenak Allah yang berkaitan dengan ketetapan-Nya yang berdaulat, dimana melaluinya Allah menjadikan segala sesuatu yang telah ditetapkan-Nya. Ini tersembunyi bagi kita sampai semua itu terjadi.
2) Kehendak yang dinyatakan adalah hukum atau perintah-perintah yang dinyatakan Allah, dimana kita memiliki kuasa untuk melanggar tetapi kita tidak mempunyai hak untuk melanggar.
3) Kehendak yang berkaitan dengan sikap Allah, kehendak ini menunjukkan sikap Allah, yaitu apa yang diperkenan-Nya
(Yoh. 19:11; Rom 9:14-18 ; Efs. 1:11 ; Kol. 1:9-14 ; Ibr. 6:13-18 ; 2 Pet 3:9)
B. Alkitab
Sesungguhnya topik tentang Alkitab sangat penting. Ini adalah salah satudoktrin gereja yang sangat penting. Mengapa? Jawabnya jelas: karena sebenarnya seluruh doktrin gereja berasal dan dibangun dari topik ini. Dengan demikian, orang Kristen tidak membangun imannya di atas pandangan-pandangan bapak-bapak gereja atau para theolog, sekalipun pandangan mereka tidak dapat kita abaikan. Akan tetapi orang Kristen membangun ajarannya di atas ajaran Alkitab. Itulah sebabnya sikap orang terhadap Alkitab mempengaruhi seluruh doktrin atau ajarannya. Saya melihat Alkitab sebagai wahyu Allah yang bersifat mutlak, maka saya tunduk terhadap segala pernyataan-pernyataan Alkitab, tanpa kecuali, sekalipun pikiran dan pandangan para ahli theologia berbeda dengan itu. Karena bagi mereka yang melihat Alkitab sebagai buku biasa atau sekedar tradisi manusia belaka, maka pernyataan-pernyataan Alkitab tidak berarti apa-apa.
Alkitab bukan sekedar tradisi manusia abad pertama, meskipun memang ada unsur tradisi di dalamnya. Alkitab juga bukan sekedar tulisan manusia, meskipun memang ada unsur keterlibatan manusia dalam penulisannya. Tetapi, sesungguhnya Alkitab adalah Firman Allah. Karena Alkitab adalah Firman Allah, maka Alkitab tidak bersalah terhadap segala hal yang dinyatakannya. Karena itu, Alkitab memegang kuasa dan otoritas tertinggi dalam kehidupan. Sebenarnya, menurut keyakinan orang Injili, inilah pernyataan Alkitab tentang dirinya, dan ini jugalah yang merupakan pandangan kaum Injili. Kaum Injili setuju dengan tokoh reformasi, Martin Luther yang mengatakan: “Tidak seorangpun diharuskan untuk mempercayai sesuatu lebih daripada apa yang dikatakan Alkitab. Alkitab harus dipercayai melebihi penglihatan, perasaan dan pengertian. Dia juga memiliki keutamaan lebih dari mimpi-mimpi, tanda-tanda serta mukjizat-mukjizat” Alkitab adalah Firman Allah.
C. Manusia
Alkitab menjelaskan bahwa manusia bukan saja mahkota dari seluruh ciptaan Allah, tetapi juga obyek khusus pemeliharaan Allah. Dan wahyu Allah dalam Alkitab bukan saja wahyu yang diberikan kepada manusia, tetapi juga wahyu dimana manusia diperhatikan secara khusus. Wahyu ini bukanlah wahyu yang abstrak, tetapi wahyu Allah dalam hubungannya dengan manusia, catatan tentang hubungan antara Allah dengan umat manusia dan terutama merupakan satu wahyu tentang penyelamatan yang telah dipersiapkan Allah, dan kini Ia juga bermaksud mempersiapkan manusia. Kenyataan ini membuktikan bahwa manusia menempati kedudukan yang amat penting dalam Alkitab dan dalam pandangan Allah.
Dari Kej. 1:26, 27 dan 2:7,21-23 jelas bagi kita bahwa segala sesuatu yang mendahului penciptaan manusia dipersiapkan Allah untuk membuat tempat tinggal yang sesuai bagi manusia sebagai raja atas semua ciptaan. Penjelasan ini menunjukkan kepada kita bagaimana manusia ditempatkan dalam penciptaan Allah, dikelilingi oleh dunia tumbuhan dan hewan, dan bagimana manusia memulai sejarahnya. Ada hal-hal khusus di mana manusia berbeda dengan penciptaan dari semua makhluk hidup yang lain.
D. Keselamatan
1. Keselamatan: Kebutuhan manusia yang utama.
Kabar buruk yang diberitakan Alkitab adalah fakta bahwa semua manusia telah jatuh ke dalam dosa (Kej 3; Roma 3:9-18, 23) dan di dalam kedaulatanNya Allah telah menetapkan bahwa “upah dosa ialah maut” ( Rm 6:23). Itu berarti semua manusia harus menghadapi kematian kekal di api neraka yang telah ditentukan Allah sebagai alat penghukuman bagi manusia berdosa. Inilah berita yang sangat mengerikan. Dengan keputusan ini jelas bagi kita sesugguhnya semua manusia keturunan Adam dan Hawa sedang dalam ancaman bahaya yang serius. Oleh sebab itu semua manusia sesungguhnya membutuhkan keselamatan, yaitu keselamatan dari murka Allah yang akan datang.
2. Keselamatan: Tujuan Allah bagi manusia.
Sejak semula Allah mempunyai tujuan bagi manusia, yaitu untuk memuliakan namNya. Bahkan penciptaan alam semesta juga bertujuan untuk mencerminkan kemuliaan Allah (Mzm 8;2,4) Namun tujuan itu diserong oleh karen jatuhnya manusia ke dalam dosa, itulah sebabnya Allah segera mengambil inisiatif sebagai tindakan penyelamatan. (Kej. 3:15, 23; Rm 8:20-21).
a. Pengangkatan Israel sebagai bangsa pilihan dipakai Allah untuk tujuan penyelematanNya. Ia memanggil Abraham, bapa bangsa Ibrani, dan menyingkapkan apa yang diperlukan supaya manusia dapat dibenarkan oleh Allah (Gal 3:6-7).
b. Yesus Kristus merupakan penjelmaan untuk menyingkapkan tujuan penyelamatan Allah (jalan selamat) bagi kita – jalan kembali kepada Allah), Yoh. 14:6; Rm 3:25-26; Kis. 4:12).
3. Keselamatan: Pekerjaan Juruselamat.
a. Penebusan Yesus Kristus.
Allah Bapa mengambil inisiatif untuk mengutus Yesus Kristus ke dalam dunia ini. Allah melakukan hal itu karena Ia mengasihi umat manusia (Yoh 3:16). Tidak dapat disangkal lagi, semua orang perlu diselamatkan. Kalau tidak, mereka semua akan binasa. Yesus Kristus harus melakukan apa yang hanya dapat dilakukan oleh Dia saja, yaitu penebusan manusia melalui penumpahan darahNya di kayu salib sebagai korban/harga yang harus dibayar untuk meredam murka Allah - lunas dibayar sekali untuk selama-lamanya (Ibr 10:10). Dalam hal inilah keadilan dan kasih Allah berjalan secara bersam-sama.
b. Pengorbanan Kristus harus diresponi dengan iman ( Yoh 3:16; Ef. 2:8)
Akar dari istilah iman adalah “percaya”. Percaya kepada Allah bukan merupakan suatu tindakan yang berdasarkan pada kepercayaan yang tidak beralasan, tapi kepada janji Allah yang berpribadi, yang menyatakan diriNya dan layak untuk dipercayai. Iman bukan merupakan suatu loncatan pada kegelapan, tetapi suatu kepercayaan di dalam Allah yang memindahkan kita dari kegelapan kepada terang (1 Petrus 2:9). Iman menyediakan substansi untuk kepercayaan kita akan masa yang akan datang dengan mempercayai sesuatu yang tidak kelihatan (Ibr 11:1). Iman lebih dari sekedar percaya kepada Allah; tetapi berarti mempercayakan diri kita sepenuhnya kepada Allah (Rom 12:1). Dengan demikian kita dibenarkan karena iman kepada Yesus Kristus (Rom 3:21-28) dan tidak ada tempat bagi perbuatan baik dan jasa manusia dalam upaya pembenaran dirinya di hadapan Allah, melainkan hanya karena anugerah yang sesungguhnya kita tidak layak menerimanya (Ef. 2:8). Dilahirkan secara baru atau yang lazim kita sebut lahir baru (rohani) oleh kuasa Roh Kudus (Yoh 3:5-6) adalah langkah awal tindakan Allah dalam penyelamatan. Seiring dengan tindakan tersebut Allah memeteraikan seorang percaya sebagai anak Allah melalui masuknya Roh Kudus di dalam hidup orang percaya sebagai jaminan kepemilikan Allah (Ef. 1:13-14).
c. Perlunya Pertobatan (conversion dan repentance)
Pertobatan dibutuhkan sebagai suatu kondisi untuk keselamatan. Pertobatan merupakan buah dari kelahiran kembali. Bukan karena takut dihukum atau takut kehilangan upah, melainkan karena didorong oleh kesadaran penyelasan yang sejati akan dosa. Hal ini melibatkan pengakuan secara penuh, kesediaan untuk bertanggung jawab, dan pemulihan untuk berbalik dari dosa. Untuk itu Allah berjanji mengampuni dosa dan memulihkan semua orang yang benar-benar bertobat (1 Yoh 1:9).
4. Keselamatan: sesuatu yang tinggal tetap.
Kebanyakan dari kita mengenal orang yang telah menyatakan pengakuan iman di dalam Kristus, kemudian menyangkali imannya dan menjadi orang yang gagal secara rohani. Bukti semacam ini menimbulkan pertanyaan, apakah seseorang yang telah diselamatkan dapat kehilangan keselamatannya? Banyak orang Kristen menganggap bahwa seseorang dapat kehilangan keselamatannya. Apabila seseorang melakukan dosa yang fatal, maka dosa semacam itu membunuh naugerah pembenaran yang mendiami jiwanya. Apabila ia meninggal sebelum dipulihkan pada tahap anugerah melalui pertobatan/pengampunan maka dia akan pergi ke neraka. Sebagian orang Kristen percaya bahwa Ibrani 6 menggambarkan hal itu. Namun sesungguhnya yang harus kita percayai bahwa apabila kita telah memiliki iman yang menyelamatkan, maka kita tidak akan pernah kehilangan iman itu lagi. Dan, kalau kita sampai kehilangan, maka artinya sejak semula kita memang tidak pernah memilikinya (1 Yoh 2:19; bdk. Luk 8:5-8).
Doktrin ketekunan orang percaya (Perseverance of the saints) tidak terletak dari kemampuan kita untuk memelihara, walaupun kita sudah mengalami kelahiran kembali. Tetapi terletak pada janji Allah untuk memelihara kita. (bdk. Fil 1:6). Berdasarkan anugerah dan hanya berdasarkan anugerah orang Kristen terpelihara. Allah menyelesaikan apa yang telah dimulainya. Dia menjamin bahwa tujuanNya di dalam pemilihan tidak akan gagal. (lihat rantai emas dalam Roma 8:39).
Kita memiliki jaminan oleh karena keselamatan adalah dari Tuhan dan kita adalah buatan tanganNya (Ef 1:13-14). Dasar akhir dari keyakinan kita ditemukan di dalam karya keimaman yang tertinggi dari Kristus, yang telah menjadi Pengantara bagi kita. Sebagaimana Yesus berdoa untuk pemulihan Petrus (Yoh 17:12), demikian pula Ia berdoa untuk pemulihan kita pada waktu kita tersandung dan jatuh. Mereka yang benar orang-orang percaya tidak dapat dirampas dari tangan Allah (Yoh 10:27-30). Dengan demikian keselamatan orang percaya tidak pernah akan hilang lagi. Inilah jaminan kekal bagi kita (bdk. 1 Yoh 5:11-12) bahwa kita diselamatkan Tuhan Yesus, sekali untuk selama-lamanya. Namun, dari pihak kita sebagai orang percaya juga dituntut ketaatan pada Allah dan meninggalkan dosa-dosa (1 Yoh 3:9).
5. Urutan Keselamatan
Regenerasi (Regeneration) – Yoh. 3:1-8 à Iman (Faith) – Ef. 2:8-9 à Pembenaran (Justification) – Rom. 3:23-26; Rom 5:6,8,10 ; II Kor. 5:19,21 à Pengudusan (Sanctification) – II Tes 2:13; I Pet. 2:9; I Tes 5:23; Efs. 5:26; Tit. 2:14; Gal.5:16,25 à Pemuliaan (Glorification) - Rom 8:29-30; II Kor. 3:18 ; Wah. 21:1,2,5
E. Predestinasi
Doktrin predestinasi merupakan doktrin yang sulit, yang menuntut penanganan yang sangat hati-hati dan teliti. Alkitab mengajarkan doktrin predestinasi, arti dasar dari predestinasi berkaitan dengan tujuan akhir manusia, yaitu sorga dan neraka. Tujuan akhir ini ditentukan oleh Allah bukan saja sebelum kita akan sampai kesana, tetapi sebelum kita dilahirkan. Pemilihan Allah adalah berdasarkan kedaulatan-Nya bukan berdasar kepada prapengetahuan Allah. Allah tidak memilih setiap orang. Dia memiliki hak untuk bermurah hati kepada siapa Ia berkenan untuk bermurah hati. Allah tidak memperlakukan seorang pun dengan tidak adil. ( Ams 16:4 ; Yoh. 13:18 ; Rom 8:30 ; Efs. 1:3-14 ; 2 Tes 2:13-15).
F. Penebusan Yang Terbatas
Lima Pokok Calvinisme: T-U-L-I-P
T = Total depravity (kerusakan secara total)
U = Unconditional election (pemilihan yang tidak bersyarat)
L = Limited Atonement (Penebusan yang terbatas)
I = Irresistible grace (Anugerah yang tidak dapat ditolak)
P = Perseverance of the saints (ketekunan orang-orang kudus)
(Matius 1:21 ; Yoh 3:16 ; Yoh 10:27-30 ; Yoh 17:9-12 ; KPR 20:28 ; Rom 8:30)
G. Gereja
Gereja menunjuk pada semua orang yang menjadi milik Tuhan. Kata Perjanjian Baru untuk gereja berarti mereka yang dipanggil keluar, yaitu mereka yang dipanggil oleh Allah keluar dari dunia, pergi dari dosa dan masuk ke dalam wilayah anugerah. Namun gereja diatas bumi selalu merupakan campuran tubuh orang percaya dan orang tidak percaya, maka perlu dibedakan antara gereja yang kelihatan dan gereja yang tidak kelihatan. Gereja yang tidak kelihatan hanya terlihat oleh Allah. Gereja adalah satu, kudus, universal dan apostolik, meskipun terdiri dari berbagai macam denominasi, orang pilihan disatukan oleh satu Tuhan, satu iman dan satu baptisan. Gereja bukan merupakan organisasi, tetapi suatu organisme seperti tubuh manusia terdiri dari anggota-anggota yang hidup.
H. Baptisan
Baptisan merupakan suatu tanda dimana Allah memeteraikan janji-Nya kepada orang pilihan-Nya, yaitu bahwa mereka termasuk di dalam Ikatan Perjanjian anugerah. Baptisan berarti merupakan tanda pembersihan dan pengampunan dari dosa-dosa kita dan baptisan menunjukkan bahwa orang itu sudah dilahirkan baru oleh Roh Kudus, yaitu dikuburkan bersama-sama dengan Kristus, didiami oleh Roh Kudus, diadopsi menjadi keluarga Allah dan dikuduskan oleh Roh Kudus. Baptisan ditetapkan oleh Kristus dan harus dilaksanakan di dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, namun baptisan tidak secara otomatis disertai kelahiran baru. Kuasa dari baptisan bukan terletak pada air, tetapi di dalam kuasa Allah. Baptisan dapat dilaksanakan dengan ditenggelamkan, dipercik, atau dicelup kedalam air. Validitas baptisan terletak pada integritas janji Allah dan seharusnya hanya dilaksanakan satu kali pada diri seseorang. (Rom 4 :11-12 ; Rom 6 :3-4 ; I Kor 12 :12-14 ; Kol 2 :11-15 ; Tit 3 :3-7)
Tentang baptisan anak, Perjanjian Baru secara eksplisit tidak memerintahkan dan tidak melarang baptisan anak. Pada waktu Yohanes Pembaptis dan Yesus bekerja bukan hanya orang dewasa saja yang mengikutinya termasuk anak-anak yang bisa ikut mendengar kotbahnya, tetapi selanjutnya setelah orang-orang bertobat dan percaya, maka ketika mereka mempunyai anak, anak-anak itu menjadi bagian dari anugerah perjanjian Allah, karena itu anak-anak bayi mereka dibaptiskan. Adalah tugas orang tua untuk selanjutnya mengajar mereka mengenai iman dan kebenaran Tuhan sejak kecil,dan bila sejak kecil mereka sudah beriman dan hidup dalam kebenaran maka tidak ada lagi keperluan bahwa mereka mengaku dosa lagi dalam upacara baptisan ulang (Ams.22:6). Tidak pernah ada bayi-bayi dari keluarga yang tidak beriman yang dibaptis, hanya bayi-bayi dari orang tua berimanlah yang dibaptiskan. Dalam kotbahnya di hari Pentakosta, rasul Petrus berkotbah: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita." (KPR.2:38-39). Ayat di atas menyiratkan bahwa anak-anak dari orang percaya terhisap dalam anugerah perjanjian Allah, karena itu mereka dapat dibaptis sejak dilahirkan. Setelah hari Pentakosta setelah banyak orang beriman mempunyai anak-anak, keselamatan itu dijanjikan kepada mereka termasuk seisi rumah mereka (KPR.11:14;16:15,31;18:8).

I. Pemerintahan Sipil
Gereja dan negara merupakan dua lembaga yang berbeda yang ditetapkan oleh Allah dan bertanggungjawab kepada Dia di dalam menjalankan tugas mereka masing-masing. Otoritas sipil ditetapkan oleh Allah dan diberikan kuasa dari pedang. Tidak ada pemerintahan yang otonomi. Tidak ada pemerintahan yang dapat dipisahkan dari Allah. Pada waktu pemerintahan bersifat otonomi, maka tugas gereja untuk mengkritik mereka. Ketaatan pada otoritas pemerintah merupakan tugas yang sakral bagi setiap orang Kristen. Hukum sipil harus ditaati dengan sungguh-sungguh, kecuali hukum itu bertentangan dengan Firman Tuhan. (2 Taw 26:16-20 ; Maz. 2:10-12 ; Rom 13:1-7 ; I Tim 2:1-4 ; I Pet. 2:13-17).
J. Kedatangan Kristus Kedua Kali
Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Kristus akan datang kembali. Tuhan Yesus sendiri secara panjang lebar membicarakan hal tersebut kepada murid-muridNya dalam Matius 24-25. Khususnya ayat berikut, "Sebab itu hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga." (Mat.24: 44). Ketika Tuhan Yesus naik ke Surga, di mana ketika itu murid-murid sedang menatap ke langit, dua orang yang berpakaian putih berkata kepada mereka, "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke Surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama" (Kis.1: 11).
Rasul Paulus pun seringkali menyebutkan hal tersebut dalam surat-suratnya. Bahkan dia sangat merindukan peristiwa tersebut. Ketika masa tuanya, dia menulis, "Sekarang tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan di-karuniakan kapadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada harinya. Tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang menantikan kedatanganNya" (2Tim.4: 8).
Sekalipun kita tidak mengetahui waktu yang tepat kapan Tuhan Yesus datang kembali, namun kita perlu memiliki sikap yang benar dalam menyambut kedatanganNya.
Sifat Kedatangan Kristus
Alkitab dengan jelas menyatakan Kristus pasti datang untuk kedua kalinya. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah sifat kedatanganNya? Untuk itu, Alkitab menyebutkan 5 hal penting tentang kedatangan tersebut.
a. Personal (secara pribadi)
Hal ini sangat jelas dikatakan oleh dua orang malaikat kepada murid-murid Yesus yang sedang menatap ke langit itu. Lukas menulis, "Yesus ini, yang terangkat ke Surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke Surga." (Kis.1: 11)
Tuhan Yesus sendiri, sebelum kembali kepada Allah Bapa bersabda, "Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada kamu pun berada" (Yoh.14: 3b). Rasul Paulus menulis, "Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari Surga. Dan kita yang hidup yang masih tinggal, akan menyongsong Tuhan di angkasa" (1Tes.4: 16-17). Dengan tepat S.H. Travis menulis, “akhir zaman berkenaan dengan pribadi, bukan sekedar peristiwa”.
b. Physical (secara jasmani)
Mari kita lihat kembali kepada perkataan malaikat tersebut di atas: "Yesus akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke Surga". Dengan perkataan lain, orang percaya yang nanti melihat kedatanganNya yang kedua akan melihatNya memiliki tubuh, yaitu tubuh kebangkitan, tubuh kemuliaan. Jadi tidak benar bahwa kedatanganNya yang kedua hanya bersifat rohani. Ada yang erpendapat bahwa sebenarnya arti parousia adalah "hadir". Jadi, Dia hadir secara rohani seperti yang dijanjikanNya. Tuhan Yesus bersabda, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat.28: 20). Hal itu memang ada benarnya, namun arti lain dari parousia adalah "datang", dan pengertian inilah yang paling menonjol dalam Perjanjian Baru. Kata lain yang digunakan dalam arti datang adalah "apokalupsis" dan "epiphania". Ketiga kata tersebut di atas digunakan Tuhan Yesus untuk menyatakan kedatanganNya kembali.
c. Visible (dapat dilihat)
Hal ini kembali jelas terlihat dari perkataan malaikat tersebut di atas. Perhatikan kalimat, "akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke Surga" (Kis.1: 1b). Tuhan Yesus sendiri bersabda: "Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya" (Mat.24: 30).
d. Unexpected (tidak terduga)
Tuhan Yesus dalam khotbahNya tentang akhir zaman bersabda: "Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada pada kedatangan Anak Manusia" (Mat.24: 38-39). Hal itu juga jelas pada perumpamaan tentang hamba yang setia dan yang jahat. Perhatikan kalimat, "Maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disang-kanya" (Mat.24: 50). Demikian juga tentang perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh (Mat.25: 1-13). Di sini kembali muncul kata "tidak disangka-sangka". Digambarkan bahwa mempelai pria datang pada tengah malam di mana gadis-gadis tersebut tertidur. Rasul Paulus juga menyatakan hal tersebut kepada jemaat di Tesalonika. Dia menulis, "Tetapi tentang zaman dan masa Saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam hari. Apabila mereka mengatakan, 'Semuanya damai dan aman,' maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin, lalu mereka pasti tidak akan luput" (1Tes.5: 1-3).
e. Triumphant and Glorious (Penuh kemenangan dan kemuliaan)
Sebagaimana telah dikutip di atas, Tuhan Yesus dalam khotbahNya bersabda: "Dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya" (Mat.24: 30). Rasul Paulus juga menuliskan bahwa ketika Kristus datang, Dia akan disertai oleh malaikat-malaikat dan penghulu malaikat (baca 1Tes.4: 16). Paulus menegaskan bahwa kelak dalam nama Yesus akan bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada dibawah bumi" (Fil.2: 10). Dia yang dihakimi selama hidupNya di dunia ini akan menjadi Hakim, yang akan menghakimi seluruh umat manusia.
Karena itu berbahagialah kita yang tetap setia mengikut Tuhan Yesus serta memberitakanNya sekalipun banyak yang menyalah mengerti serta menolakNya. Karena sesungguhnya, Dia adalah Juruselamat dan Tuhan yang akan menghakimi dunia dengan segala kemenangan dan kemuliaanNya.
III. PENUTUP
Demikianlah secara umum teologia / doktrin yang saya anut.

Referensi:

1. Theologi: Doktrin Allah, Thomy J. Matakupan, IRECS, Momentum 2005
2. Bibliologi: Doktrin Alkitab, Trivena Ambarsari, IRECS, Momentum 2002
3. Prinsip-Prinsip Penginjilan, Thomy J. Matakupan, IRECS, Momentum 2002
4. Teologi Dasar 1, Charles C. Ryrie, Yayasan Andi, 2003
5. Sekitar Tritunggal, Ir. Herlianto, MTh., Milis Yabina 2004
6. Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen, R.C. Sproul, SAAT Malang 2007
7. Antrophology: Doktrin Manusia, Pdt. Budi Asali M.Div., Milis GKRI Exodus
8. Calvinisme Yang Difitnah, Pdt. Budi Asali M.Div., Milis GKRI Exodus
9. Theology: Doktrin Allah, Pdt. Budi Asali M.Div., Milis GKRI Exodus
10. Ajaran Alkitab Mengenai Doktrin Predestinasi, Andhika Gunawan, Milis GKRI Exodus
11. Step by Step, James C.Petty, Momentum, Surabaya, 2004
12. Pertanggungjawaban Iman Kristen Bernegara & Berpolitik,Yakub B. Susabda, Makalah.
13. Tanggungjawab Orang Kristen Terhadap Gereja, Negara dan Sesama, Pdt. William Liam MTh., Bahan Katekisasi GKA – Surabaya
14. Aku Datang Segera, Jakob P.D. Groen, Momentum- Litindo, 2002
15. Kristus Pasti Datang Kembali, Pdt. Ir. Mangapul Sagala MTh., Perkantas

Doktrin Tri-Tunggal dan Soteriologi


Ajaran Tritunggal :
Mengikuti Bapa-Bapa Gereja atau Sabelianisme
A. Pentingnya Doktrin Tritunggal
Doktrin Tritunggal adalah doktrin yang sangat penting dalam teologia Kristen. Jatuh bangunnya iman Kristen sungguh-sungguh bergantung pada benar-tidaknya doktrin ini. Semua doktrin kekristenan secara otomatis akan runtuh, jika doktrin Tritunggal runtuh. Sebab, hampir semua pokok penting dalam agama Kristen, bergantung pada ajaran bahwa Allah adalah tiga dalam satu. (Bruce Milne : Mengenal Kebenaran ; 1993, hal.90). Henry B. Smith berkata , “Ketika doktrin tentang Trinitas ditinggalkan, bagian-bagian lain dari iman, seperti pendamaian dan regenerasi selalu juga ditinggalkan.” (Henry B. Smith dalam buku A.H. Strong: Systematic Theology, Vol. I: The Doctrine of God); 1907: 351). Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa doktrin Tritunggal adalah fondasi teologia Kristen.
Jadi, jangan sepelekan doktrin Tritunggal ini. Jika doktrin Tritunggal yang dianut GKJ ternyata salah dan tidak Alkitabiah maka ajaran-ajaran lainnya dimungkinkan ( bahkan dipastikan) salah juga. Kalau pemahaman tentang Allah salah, maka pemahaman tentang karya-karya Allah juga salah, misalnya tentang penulisan Alkitab, keselamatan, dan sebagainya.
B. Doktrin Tritunggal dalam Sejarah.
a. Sejak jaman Perjanjian Lama bangsa Yahudi selalu menekankan tentang Ke Esa-an Allah dan konsep ini dibawa sampai abad-abad pertama masehi.
b. Pada abad 2, Tertulianus memformulasikan doktrin ini; tapi masih banyak kekurangannya. (belum sempurna).Tertulianus (165M-220M) adalah orang pertama yang menemukan istilah “Trinity” (Tritunggal). Tertulianus berusaha untuk memberikan penjelasan yang alkitabiah tentang ajaran Tritunggal, karena pada saat itu di gereja banyak tersebar pengajaran Monarkianisme. Ajaran sesat Monarkianisme digolongkan menjadi 2:
1. Monarkianisme Dinamis (adoptionisme) Ajarannya: Yesus adalah manusia biasa yang diadopsi oleh Allah dan diberikan kekuatan khusus pada saat Ia dibaptis.
2. Monarkianisme Modalistis Ajarannya: Allah adalah satu, tetapi muncul (tampil) kepada manusia dalam 3 mode (bentuk), yaitu Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus.
c. Arius (250M-336M) dari Aleksandria menentang ajaran Tritunggal. Ia tidak setuju akan keAllahan Anak dan Roh Kudus, berdasarkan Kol 1:15; Yoh 1:14; Yoh 3:16. Di Konsili Nicea (325M) ajaran Arian ini ditentang habis-habisan oleh Athanasius, demikian juga di Konsili Konstantinopel (381M). Perdebatan yang paling utama adalah mengenai dua istilah yang dipakai untuk menjelaskan tentang keAllahan Yesus dan Roh Kudus.
Pendapat Athanasius Vs Pendapat Arius: homoousios (sifat yang sama) vs homoiousios (sifat yang mirip)
d. Subordinationisme adalah ajaran yang juga menyimpang dari Alkitab. Mereka mengakui keAllahan Anak dan Roh Kudus, tetapi tetap lebih rendah keAllahan Bapa.
Athanasius berjuang hampir 17 tahun untuk mengembalikan doktrin ini kepada kebenaran Alkitab. Akhirnya dalam Konsili Konstantinopel (381M) Kaisar Konstantin memihak kepada Athanasius. Athanasius memberikan pandangan yang sehat. Kristus dilahirkan dari Bapa dan mempunyai kesetaraan dengan Bapa, tidak bersubordinasi. Namun demikian, Athanasius belum cukup puas karena kemenangannya hanyalah karena kekuatan kekuasaan Konstantin. Setelah kaisar Konstantin digantikan oleh penggantinya, ternyata penggantinya lebih memihak kepada kaum Arian.
e. Pada pertengahan abad 4, seorang teolog dari Kapadokia (Asia Kecil Timur) memberikan doktrin Tritunggal yang definitif dan mengalahkan ajaran aliran Arianisme dan mempertahankan istilah homoousios.
f. Doktrin Tritunggal yang paling tuntas diformulasikan pada masa Agustinus (354M-430M). Ia menulis dalam bukunya “De Trinitate“. Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus tidak memiliki subordinasi, tetapi kesetaraan. Satu esensi Allah dengan 3 pribadi seperti apa yang diajarkan dalam Akitab.
g. Konsili Toledo (589M) menyelesaikan perdebatan tentang “filioque” (Latin), yang artinya “dan Anak” berdasarkan Yoh 14:26; Yoh 16:7; Yoh 15:26. Istilah “filioque” ini tidak dicantumkan baik dalam Konsili 325M ataupun Konsili 381M. Baru ditambahkan dalam Sinode Toledo (589M).
h. Sesudah masa Reformasi, Tokoh-tokoh Reformator, seperti Martin Luther dan John Calvin tidak menolak doktrin Tritunggal versi Athanasius. Martin Luther berkata bahwa doktrin Tritunggal harus diterima dengan iman, walaupun tidak bisa dijelaskan dengan tuntas, karena ada dalam Alkitab. Sedangkan Calvin menulis penjelasan tentang Tritunggal dalam bukunya Institutio.
i. Pandangan modern tentang Tritunggal bervariasi. Tetapi tidak ada hal yang baru lagi. Semua kesalahan yang dilakukan oleh teolog-teolog modern sudah pernah terjadi sebelumnya.
C. Pembahasan Sabelianisme di dalam PPA GKJ
Sebelum membahas Sabelianisme yang ada di PPA GKJ, perlu dijelaskan terlebih dahulu bagaimana ajaran Sabelianisme atau yang juga dikenal sebagai Modalistic Monarchianism itu.
Albert H. Freundt Jr.: “Modalistic Monarchianism endangered the true humanity of Christ and obliterated the distinctions within the Godhead. The aim was to make sure that in Christ we meet with no secondary or derived being, but with God himself. It was believed that in Christ the Father himself became incarnate as the Son and suffered. Hence the name ‘Patripassianism’ was given to this view. There are no eternal distinctions within the Godhead. God revealed himself in creation as the Faith, in redemption and the Son, and in sanctification as the Spirit. There is a trinity of manifestation rather than of persons. … The best known exponent of this view was Sabellius, and Sabellianism is another name for Modalistic Monarchianism. It is essentially the view that God is one person who successively reveals himself as Father, Son, and Spirit. When he became Son, he ceased being Father; and so forth. Each was a temporary mode or manifestation of the one true God” [= Modalistic Monarchianisme membahayakan kemanusiaan yang sejati dari Kristus dan menghapuskan perbedaan-perbedaan dalam diri Allah. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa dalam Kristus kita bertemu bukan dengan makhluk yang sekunder atau yang diturunkan / mempunyai asal usul, tetapi dengan Allah sendiri. Dipercaya bahwa Kristus adalah Bapa sendiri yang berinkarnasi sebagai Anak dan menderita. Karena itu nama ‘Patripassianisme’ (= Bapa yang menderita) diberikan kepada pandangan ini. Tidak ada perbedaan-perbedaan kekal dalam diri Allah. Allah menyatakan diriNya sendiri dalam penciptaan sebagai Bapa, dalam penebusan sebagai Anak, dan dalam pengudusan sebagai Roh. Ada ketritunggalan manifestasi / perwujudan dan bukannya pribadi. ... Tokoh yang paling terkenal dari pandangan ini adalah Sabellius, dan Sabellianisme adalah nama lain untuk Modalistic Monarchianisme. Pada hakekatnya ini adalah pandangan bahwa Allah adalah satu pribadi yang secara berturut-turut menyatakan diriNya sendiri sebagai Bapa, Anak, dan Roh. Pada waktu Ia menjadi Anak, Ia berhenti menjadi Bapa, dan seterusnya. Masing-masing adalah perwujudan sementara dari satu Allah yang benar] - ‘Early Christianity’, hal 47-48
Sekarang, bandingkan ajaran Sabelianisme di atas dengan Pemahaman Ketritunggalan Allah pada PPA GKJ berikut:
Pemahaman Ketritunggalan Allah

Rumusan Bapa, Anak dan Roh Kudus itu dapat dijelaskan demikian:
1. Dalam hubungan dengan peristiwa bangsa Israel sebagaimana tertulis dalam kitab Perjanjian Lama, Allah dikenal sebagai Bapa.
2. Dalam hubungan dengan peristiwa manusiawi Yesus sebagaimana tertulis dalam kitab Perjanjian Baru, Allah dikenal juga sebagai Anak Allah.
3. Dalam hubungan dengan peristiwa Roh Kudus, sebagaimana tertulis dalam kitab Perjanjian Baru dan di dalam sejarah gereja hingga kini, Allah dikenal juga sebagai Roh Kudus.
Sebutan Bapa dan Anak tidak menyatakan hubungan biologis, melainkan menyatakan hubungan langkah-langkah Allah di dalam karya penyelamatan-Nya [Mat.3:17 ( baca ayat 13-17); Yoh.1:1-3].
Bapa, Anak dan Roh Kudus itu Allah yang satu dan sama. Jadi, pribadinya hanya satu, yaitu Allah [Yoh.10:30; 14:9; 1Yoh.5:7].
Penjelasan tentang Yesus yang berdoa kepada Bapa dan tentang Bapa memberikan Roh Kudus kepada murid-murid Yesus adalah sebagai berikut:
·         Tentang Yesus yang berdoa kepada Bapa dapat kita pahami atas dasar penalaran bahwa Yesus adalah Allah yang masuk melibatkan diri di dalam kehidupan manusia dengan cara yang begitu manusiawi dan menjalani kehidupan-Nya dengan cara yang manusiawi pula. Dalam hal Yesus yang berdoa kepada Bapa, Ia menempatkan diri dalam posisi menggantikan manusia.
·         Tentang Bapa yang memberikan Roh Kudus kepada murid-murid Yesus dan orang-orang percaya, hal itu dapat dimengerti dari penalaran bahwa Allah sendiri yang datang dan bekerja sebagai Kuasa di dalam hati mereka, untuk menolong mereka sehingga mampu mempertahankan keselamatannya [Flp.2:7,8; Ibr.2:14-18; 4:14,15;Yoh.20:22]
Sekarang bandingkan antara kalimat yang digarisbawai pada ajaran Sabelianisme dan pada kotak (PPA GKJ)! Sama bukan? Dengan demikian, disengaja atau tidak, GKJ telah menganut ajaran Sabelianisme yang telah dinyatakan sesat / sebagai bidat oleh Bapa-Bapa Gereja dan para tokoh Reformasi seperti Augustinus, Martin Luther, dan Johanes Calvin. Calvinis juga menentang ajaran Sabelianisme ini.
Ajaran Tritunggal menurut Bapa-Bapa Gereja dan Reformator serta Calvinis.
Bapa-Bapa Gereja dan para tokoh Reformator dan Calvinisme tetap memegang ajaran Tritunggal yang sudah ada sejak gereja mula-mula dan diteguhkan pada Pengakuan Nicea-Kontantinopel yang menyatakan bahwa Allah itu satu esensi dan tiga pribadi.
John Calvin:
Tiga yang dibicarakan, masing-masing adalah Allah sepenuhnya, tetapi tidak ada lebih dari satu Allah
“Saya tidak dapat memikirkan yang satu tanpa dengan cepat dilingkupi oleh kemegahan dari yang tiga; juga saya tidak bisa melihat yang tiga tanpa segera dibawa kembali kepada yang satu
Louis Berkhof:
Keberadaan yang bersifat tiga pribadi ini adalah suatu keharusan dalam diri Allah, dan sama sekali bukanlah hasil dari pilihan Allah. Ia tidak bisa berada dalam sesuatu yang lain dari pada bentuk tiga pribadi
RC Sproul:
Formulasi bahwa Allah itu satu esensi dan tiga Pribadi memang merupakan suatu misteri dan paradoks tetapi tidak kontradiksi. Keesaan dari Allah dinyatakan sebagai esensi-Nya atau keberadaan-Nya, sedangkan keberagaman-Nya diekspresikan dalam tiga Pribadi.
Istilah pribadi sama sekali tidak berarti adanya perbedaan di dalam esensi, tetapi perbedaan di dalam substansi dari Allah. Substansi-subtansi pada diri Allah memiliki perbedaan yang nyata satu dengan yang lain tetapi tidak berbeda secara esensi, dalam arti suatu keberadaan yang berbeda satu dengan yang lain. Setiap pribadi berada “di bawah” esensi Allah yang murni. Perbedaan substansi ini berada dalam wilayah keberadaan, bukan merupakakan suatu keberadaan atau esensi yang terpisah. Semua pribadi pada diri Allah memiliki atribut ilahi.
Setiap pribadi di dalam Trinitas memiliki peran yang berbeda. Karya keselamatan dalam pengertian tertentu merupakan pekerjaan dari ketiga Pribadi Allah Tritunggal. Namun di dalam pelaksanaannya ada peran yang berbeda yang dikerjakan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bapa memprakasai penciptaan dan penebusan; Anak menebus ciptaan; dan Roh Kudus melahirbarukan dan menguduskan, dalam rangka mengaplikasikan penebusan kepada orang-orang percaya.
Doktrin Tritunggal tidak menunjukkan bagian-bagian atau peran-peran dari Allah. Analogi manusia yang menjelaskan seseorang yang adalah seorang bapa, seorang anak dan seorang suami tidak dapat mewakili misteri dari natur Allah.
Doktrin Tritunggal tidak secara lengkap menjelaskan tentang karakter Allah yang bersifat misteri. Sebaliknya doktrin ini memberikan perbatasan yang tidak boleh kita langkahi. Doktrin ini menjelaskan batas pemikiran kita yang terbatas. Doktrin Tritunggal menuntut kita untuk setia pada wahyu ilahi yang menyatakan bahwa dalam suatu pengertian Allah adalah esa dan dalam pengertian lain Dia adalah tiga.
( R.C Sproul – Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen – Hal 43,44)
Bagaimana kata Alkitab?
·         Alkitab menyatakan ketunggalan Allah
Contoh:
Ulangan 6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
Maleakhi 2:15 Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh?
Markus 12:29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
Yohanes 5:44 Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?
1 Timotius 1:17 Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.
·         Alkitab menyatakan “kejamakan dalam diri Allah”.
Kejamakan dalam diri Allah tidak sama dengan Allah itu lebih dari satu.
a. Dalam Perjanjian Lama
1) Digunakannya bentuk jamak untuk kata Allah.
Kej 1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
Dalam bahasa Ibrani kata yang dipakai untuk Allah adalah Elohim. Kata Elohim adalah bentuk jamak dari Eloah.
Dalam bahasa Ibrani ada tiga macam bentuk kata: tunggal, dual, dan jamak. Dual hanya digunakan untuk dua (biasanya untuk hal-hal yang berpasangan seperti mata, telinga, kaki, dsb) sedangkan jamak untuk sesuatu yang lebih dari dua. Jelas bahwa kata “Elohim” menunjukkan ada lebih dari dua pribadi Allah.
Dalam seluruh Alkitab kata “Elohim” (2.346X) jauh lebih banyak daripada “Eloah” (277 X). Kalau Allah itu hanya satu pribadi mengapa tidak selalu menggunakan Eloah?
2) Adanya kata ganti jamak untuk Allah.
Kejadian 1: 26a Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,
Kejadian 3: 22a Berfirmanlah TUHAN Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita,
Kejadian 11:7 Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.”
Yesaya 6: 8b (ASV) Whom am I to send, and who will go for Us?
Adanya kata “Kita” menunjukkan adanya komunikasi antar Pribadi Allah. Kata: “Kita” tidak bisa diartikan sebagai “Allah dan Malaikat” karena Malaikat tidak punya kemampuan untuk mencipta dan kita juga tidak diciptakan menurut gambar Allah dan malaikat.
3) Adanya pembedaan pribadi Allah satu dengan pribadi Allah lainnya.
Psalm 110: 1 The LORD said unto my Lord, Sit thou at my right hand, until I make thine enemies thy footstool.
Bandingkan dengan penjelasan Tuhan Yesus tentang ayat ini di Matius 22: 42-45
b. Dalam Perjanjian Baru
Di dalam Perjanjian Baru Tiga Pribadi Allah sangat jelas dibedakan satu dengan yang lainnya dalam satu ayat / bagian Alkitab.
Yoh 1: 1-3 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
Kata “bersama-sama” pada ayat 2 berasal dari bahasa Yunani “pros” yang menyatakan suatu hubungan muka dengan muka, suatu hubungan yang akrab dan pribadi. Jadi jelas bahwa Firman (Logos) adalah Pribadi yang berbeda dengan Bapa, tetapi esensinya sama yaitu Allah.
Mat 3:16,17 Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
Disini Ketiga Pribadi Allah ada dalam waktu yang sama dan pada “posisi” yang berbeda.
Yohanes 5: 30 Aku (Yesus) tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.
Disini Yesus punya kehendak sendiri, Bapa juga punya kehendak sendiri. Jelas masing-masing adalah pribadi yang berbeda. Ini diperjelas dengan adanya pengutusan, Pribadi Bapa mengutus Pribadi Yesus. Kalau Allah itu satu Pribadi dan punya tiga manefestasi bagaimana sesama manefestasi Allah bisa mengutus. Sebagai analogi, bagaimana saya sebagai suami mengutus saya sebagai ayah?
Yohanes 5: 31,32,37 Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar.
Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang  Aku.
Kata yang lain pada ayat di atas dalam bahasa Yunani dipakai adalah “allos”. Kata “allos” disini menunjukkan bahwa “yang lain” tersebut sejenis, satu nature. Sedangkan bila “yang lain” itu tidak sejenis maka digunakan kata “heteros”.
Jadi jelaslah, dari ayat-ayat di atas bahwa Pribadi Yesus seesensi dengan Pribadi Bapa.
Yohanes 14:16,17 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.
Kata Penolong berasal dari bahasa Yunani “parakletos” yang juga dapat diterjemahkan dengan “Penghibur”, “Penasehat” dan kata “yang lain” berasal dari kata “allos”.
Kalau dikatakan “Penolong yang lain”, lalu siapa “Penolong sebelumnya” yang sejenis ?
1Joh 2:1 Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.
1Jo 2:1 (ASV)My little children, these things write I unto you that ye may not sin. And if any man sin, we have an Advocate with the Father, Jesus Christ the righteous:
Kata “pengantara” atau dalam terjemahan lainnya “pembela” dalam bahasa Yunaninya juga “parakletos”.
Jadi, menurut konteks kedua perikop di atas, ada dua”Parakletos” yaitu Tuhan Yesus dan Roh Kudus. Keduanya satu esensi (sejenis).
Dengan demikian dari pembahasan Yohanes 5, 31,32,37, Yohanes 14,16,17, dan I Yoh 2: 1, dapat disimpulkan bahwa Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus adalah tiga Pribadi yang satu esensi. Satu esensi tiga pribadi.
Kis 7: 55,56 Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.
Di sini juga jelas bahwa Allah dibedakan dalam tiga Pribadi bukan tiga manifestasi. Kalau Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus merupakan manifestasi Allah yang hanya satu Pribadi, maka tidaklah mungkin menyatakan diri dalam waktu yang sama. Sebagai analogi tidaklah mungkin saya sebagai suami berbicara kepada saya sebagai ayah secara berhadapan muka, di sisi lain saya sebagai pegawai menyaksikan percakapan saya sebagai suami dengan saya sebagai ayah.
2 Kor 13:14 (13-13) Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.
Kalau Allah satu Pribadi saja, maka ucapan berkat seharusnya cukup menggunakan satu nama Allah saja. Penggunaan kata hubung “dan” menunjukkan bahwa Tuhan Yesus, Allah (Bapa), dan Roh Kudus merupakan Pribadi yang terpisah / berbeda.
A.Menguji Tafsiran PPA GKJ tentang Ketritunggalan Allah
Alkitab tidak berisikan hal-hal yang kontradiksi. Hal-hal yang nampaknya saling bertentangan sebenarnya dapat diharmoniskan melalui penyelidikan Alkitab yang lebih seksama dan tentu saja dengan iluminasi Roh Kudus. Nah, kalau ada penafsiran yang berbeda tentang Tritunggal, maka tugas kita untuk mencari mana yang salah, dan mengapa penafsirann tersebut salah.
Di depan saya sudah menyampaikan sedikit penafsiran tentang Tritunggal berdasarkan ajaran Calvinis yang juga mengikuti ajaran dari Bapa-Bapa Gereja, yang tentu saja saya yakini itulah penafsiran yang benar. Maka saat ini saya ingin menunjukkan kesalahan penafsiran para penyusun PPA – GKJ yang menghasilkan ajaran Tritunggal yang sudah dinyatakan salah / sesat oleh Bapa-Bapa Gereja, para reformator dan Calvinisme.
1. Bapa – Anak Allah : menyatakan hubungan langkah-langkah Allah di dalam karya penyelamatan-Nya?
Dasar Alkitab yang dipakai: Yoh 1: 1-3
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
Di ayat ini tidak tersurat maupun tersirat bahwa Allah Bapa bermanifestasi menjadi Anak Allah. Yang tersurat justru Tuhan Yesus / Sang Firman ( yang juga Allah) adalah Pribadi yang ada sejak kekal bersama-sama Pribadi Allah Bapa. Kata “bersama-sama” pada ayat 2 berasal dari bahasa Yunani “pros” yang menyatakan suatu hubungan muka dengan muka, suatu hubungan yang akrab dan pribadi. Jadi, ayat ini justru mendukung doktrin Tritunggal bahwa Allah itu satu esensi tiga pribadi.
2. Bapa – Anak – Roh Kudus satu pribadi?
Dasar ayat:
a. Yoh 10: 30 : Aku dan Bapa adalah satu.
Benarkah kata “satu” menunjukan satu pribadi?
Jika kita membaca terus sampai ayat 33-36, maka jelas bahwa yang dimaksud dengan satu adalah satu “esensi” yaitu Allah. Jadi maksud perkataan Tuhan Yesus adalah bahwa sama seperti Bapa adalah Allah, maka Ia juga Allah.
Ayat ini justru mendukung doktrin Tritunggal Calvinis. Allah itu satu esensi tiga pribadi.
b. Yoh 14: 9 Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.
Perkataan Tuhan Yesus ini sama dengan perkataan Tuhan Yesus pada Yoh 10: 30 – 38, yang menunjukkan bahwa kesatuan diantara Bapa dan Tuhan Yesus adalah pada esensi-Nya bukan pada pribadi-Nya.
c. I Yoh 5: 17 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.
Saya lanjutkan sampai ayat 18: Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.
Sama seperti Roh, air, dan darah adalah “benda” yang berbeda, demikian juga Bapa, Firman, dan Roh Kudus adalah Pribadi yang berbeda. Jadi kata “satu” yang dimaksud adalah satu esensinya (Allah), bukan satu pribadi.
3. Dua manifestasi bisa saling berkomunikasi?
Doktrin Tritunggal Sabelianisme sebenarnya akan kesulitan (bahkan tidak mungkin dapat ) menjelaskan tentang adanya komunikasi antara dua peran Allah yang berpribadi satu. Saya sebagai suami tidak mungkin berkomunikasi dengan saya sebagai seorang ayah, kecuali saya gila.
Di dalam hal Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa, para penyusun PPA GKJ menjelaskan bahwa pada saat itu Yesus menempatkan posisi sebagai manusia dan bukan sebagai Allah. Dengan demikian sewaktu-waktu Yesus berperan sebagai Allah 100% dan sewaktu-waktu berperan sebagai manusia100 %. Jadi Yesus bukan Allah dan manusia pada saat yang sama. Jelas ini bertentangan dengan Doktrin Kristlogi yang dianut oleh Bapa-Bapa Gereja dan para Reformator.
Ayat-ayat yang dijadikan dukungan terhadap ajaran PPA GKJ tentang Sabelianisme ini (Flp 2: 7,8, Ibr. 2: 14-18) justru menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Ketika menjadi manusia Ia tetap Allah. Jadi Yesus mempunyai dua hakikat (ilahi dan manusiawi) yang menyatu dalam satu pribadi.
Demikian juga ketika penyusun PPA GKJ menjelaskan bagaimana Bapa memberikan Roh Kudus kepada para murid, maka mau tidak mau harus menyatakan Roh Kudus hanyalah Kuasa. Sebab kalau Roh Kudus dinyatakan sebagai Pribadi jelas tidak mungkin ada satu pribadi yang terpisah. Tidak mungkin saya sebagai suami duduk diam di depan komputer sedangkan saya sebagai ayah berjalan mengambil minuman. Agar saya tetap di depan komputer dan dapat minum, maka saya harus menggunakan otoritas saya sebagai ayah untuk memerintahkan anak saya mengambil minuman. Nah, para penyusun PPA GKJ menyamakan “Roh Kudus” dengan semacam “otoritas memerintah” sehingga kehendak pribadi Bapa dapat terlaksana. Pertanyaannya, betulkan Roh Kudus hanya sekedar Kuasa yang diberikan kepada para murid agar kehendak Bapa dalam karya penyelamatan terpenuhi?
Roh Kudus bukan sekedar “Kuasa” tetapi Pribadi.
Yohanes 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,
Tuhan Yesus menggunakan kata ganti orang ketiga tunggal untuk Roh Kudus, jadi Roh Kudus adalah Pribadi (person), bukan sesuatu (something)
Bukti Roh Kudus merupakan Pribadi:
Bukti melalui keberadaan-Nya: Ia memiliki pikiran (Roma 8:27), Ia memiliki perasaan (Efesus 4:30), Ia memiliki kehendak (1 Korintus 12:11)